#Natal

19 2 0
                                        

Semua teman-teman sedang serius memandang fajar di hadapan kami saat ini. Beberapa dari mereka juga sibuk mengabadikannya di kamera. Aku hanya tersenyum kecut. Dan David, dia sedang menikmati fajar berdua dengan Fatimah. Ku kira, fajar di atas gunung semenyenangkan yang orang-orang bilang. Ternyata bukan perihal fajar di atas gunung yang menyenangkan.  Tapi, dengan siapa kau menikmati fajar tersebut. 

Aku kesal. Aku marah. Mengapa Fatimah harus ada di antara hubungan kami berdua saat ini? Padahal akan sangat seru jika aku dan David menghabiskan waktu di gunung berdua. Dan yang paling membuatku kesal adalah, David juga tampak senang di ajak bercerita dengan perempuan itu.

Ida mencolek lenganku. "Kenapa muka kau itu? Gak enak kali buat di tengok," katanya. Aku hanya menghela napas singkat. "Jam berapa kita pulang?" tanyaku.

"Nanti sore jam empat. Kenapa? Kok mau cepat-cepat kau balik?" Ida menatapku bingung. "Ini masih jam lima pagi, Uli. Habur kau ku tengok. Aku malah pengin di sini lama-lama," kata Ida. Aku menghela napas kemudian segera pergi dari sana.

Aku menuju tenda.

"Uli!"

Panggilan itu membuatku menoleh. "Kau mau ke mana? Zaro ngajak foto sama. Kan lumayan nambahin foto bagus di galeri," kata Ida.

Aku menghela napas pelan, kemudian segera berjalan pelan ke arahnya. Ida berbisik kecil. "Kau berantem sama David? Kok bisa? Semalam bucin kalinya ku tengok kelen dua. Apa karena dia marah karena kau buat badannya pegal-pegal?" tuturnya.

Aku kembali menghela napas. Pandanganku bersirubuk dengan David. Buru-buru aku buang muka. David melangkah pelan ke arahku. "Enggak mau foto, Uli?" tanyanya. Aku tak menjawab. Dia menarik tanganku. "Hei? Kenapa diam?" tanyanya.

"Ada masalah?" Dia kembali bertanya.

"Mungkin dia cemburu lihat kau sama cewek Islam itu," lirih Ida yang membuatku membulatkan mata sempurna. Idaaa? Dari mana kau tauu?

David melingkarkan tangannya di wajahku. Memintaku untuk menatapnya.

"Bener kata Ida?" tanyanya. Aku tak menjawab. Hanya menatap mata itu lamat-lamat. "Kau cemburu lihat kami?" tanyanya kemudian tertawa kecil di akhir kalimatnya.

"Enggak." Aku menggeleng cepat.

"Oh?" Dia tersenyum remeh. Mencoba merayu. "Kalau enggak cemburu, kenapa sikapmu berubah kayak begini?" tanyanya penasaran.

"Terserah," jawabku malas.

David tertawa kecil. Tawa yang sialnya membuatku tersipu. "Lucu sekali kalau kau sedang cemburu begini. Begini saja terus," katanya.

Dia membawa tanganku ke dadanya. Bergerak sedikit ke bawah. Tepatnya di jantung. Hal yang membuatku kaget. Aku bisa merasakan jantung itu berdegup kencang. "Kau nggak usah cemburu Uli. Di jantung ini, cuman ada namamu. Karena jantung ini tau, pada siapa dia mau berdetak," tuturnya.

Senyumku mengembang.

"Iya-iya. Punya kelen dua portibi ini." Suara Ida membuat kami berdua menoleh. "Kelen kira aku ini apa? Hau-hau? Batu? Kurang asam kalian berdua!" kesal Ida. Aku dan David tertawa kecil.

"Makanya cari pacar sana," suruh David.

Ida berdecak. "Babamu!" jawabnya.

***

Pagi-pagi sekali aku bangun. Hari ini hari paling istimewa bagi agama Kristen. Hari Natal. Aku membangunkan Bapak yang tengah terlelap. Laki-laki itu menggeliat malas. "Apaa? Masih ngantuk Bapak," katanya. Matanya masih terpejam.

Because of Fate [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang