Pagi itu, begitu aku sampai di sekolah, aku kaget saat melihat David dan Pak Riko sedang berbicara di dekat parkiran. David menggenggam satu lembar kertas, yang tak ku tau kertas apa. Sebisa mungkin aku untuk tidak terlihat agar bisa mendengar percakapan keduanya.
“——tapi saya beneran, Pak. Kejadian semalam yang sama Uli cuman kesalahpahaman. Ridwan aja yang salah kaprah," katanya.
“Terus, si Ridwan si bodat itu cuman bercanda?” tanya Pak Riko. David terkekeh kecil. “Iya, Pak. Dia cuman bercanda. Jelas-jelas aku ngomong sama Uli di luar kamar mandi. Mana mungkin juga saya bawa Uli ke dalam kamar mandi. Uli itu anak baik-baik. Anak kesayangan bapaknya. Saya mah nggak mau kena amuk bapaknya kalau saya sampai berbuat yang enggak-enggak, hehe.”
Pak Riko geleng-geleng kepala. “Kau itu sebenarnya udah keterlaluan. Kalau emang kau tau si Ridwan bohong, kenapa kau diam aja waktu saya tanya? Lain kali jangan berbuat hal tersebut. Itu jelas-jelas bisa mencoreng nama baik Uli. Dan yang paling parahnya, mencoreng nama baik sekolah.”
“Iya, Pak. Saya janji deh, nggak bakalan bercanda di luar batas kayak gitu.” Pak Riko menepuk pundak David tiga kali. “Yasudah, saya ke kantor dulu,” ucap Pak Riko. David mengangguk mantap.
"Btw, Pak. Kamar mandi sekolah ini bau banget. Kalau saya bawa Uli ke dalam kamar mandi, yang ada, kami berdua mati di dalam karena keracunan bau pesing!" teriak David yang membuat Pak Riko geleng-geleng.
Tanpa sadar, senyumku terukir. Aku segera geleng-geleng kepala. David melangkah pergi. Namun dia meninggalkan kertas yang tadi. Aku segera berjalan untuk mengambil kertas tersebut.
Begitu melihat kertas tersebut, aku kaget setengah mati. "A—apa ini? Dia kok bisa dapat ulangan matematika seratus??"
Aku melihat punggung David yang semakin menjauh. Aku segera mengantungi kertas tersebut kemudian segera pergi dari sana.
Begitu aku mendaratkan kakiku di lantai kelas, aku sudah melihat Ida dan beberapa temanku perempuan berkerumun membicarakan sesuatu. Lebih tepatnya gosip. Aku memilih untuk tidak peduli, kemudian segera duduk di bangku. Begitu aku meletakkan tas, aku terkejut melihat sebuah amplop di dalam laci.
Aku tidak langsung meraih amplop tersebut. Melainkan terdiam beberapa detik. “Surat ini—dari orang itu lagi?” Monologku. Pada akhirnya, aku meraih surat tersebut.
Kadang aku merasa kalau Tuhan sebaik itu
Kunci motorku hilang
Bagai orang bodoh yang tengah kehilangan,
Aku mencari-cari kunci tersebut, namun aku
malah bertemu dengan bidadari tak bersayap
Membaca rentetan kalimat itu membuatku berusaha berpikir. Sebenarnya, siapa orangnya? Ini sudah ketiga kalinya!
“Uliiiiiiiiii!!!!” Aku menoleh begitu mendengar Ida berteriak. “Si Dame, temen kau itu hilang,” katanya.
Aku mengerutkan kening. “Hilang? Kok bisa?” tanyaku. "Perasaan aku baru bertemu Dame kemarin."
“Nah. Sejak itu pula, dia hilang.”
Penuturan Ida membuatku mematung seketika. Ke mana Dame? Apa yang terjadi pada perempuan itu? Lonceng pertanda baris berbaris berbunyi. Pada akhirnya, aku dan Ida menuju lapangan.
***
Jam pelajaran kembali berlangsung. Guru bimbingan konseling, Bu Mondang memasuki ruangan. Aku sedikit aneh melihatnya, mengingat peristiwa kemarin saat aku dan David di sidang. “Pagi, Buuu,” sapa siswa-siswi.
Bu Mondang duduk di bangku guru. “Saya kaget mendengar kasus di kelas ini kemarin,” katanya. Sumpah! Dia sedang menyindirku kan? Kan sudah di bilang. Itu hanya bercanda!
“Bu, ada pepatah yang mengatakan, yang lalu biarlah berlalu. Jadi menurut saya, pembahasan ibu sekarang, nggak ada gunanya untuk di bahas kembali.” David berbicara. Jantungku berdegup kencang.
“Tau dari mana kamu? Masa lalu itu untuk di jadikan pelajaran,” katanya. David tidak membalasnya. Bu Mondang menghela napasnya. “Pintar kalau tidak punya etika, sama aja bohong,” ucapnya.
“Jadi ini maksudnya, ibu bilang saya tidak punya etika ya?” tanya David. Aku segera berbalik. Menatap David kesal, supaya laki-laki itu diam.
“Baru sadar kamu? Saya bisa aja buat nilai sikap kamu, C di rapor,” ucapnya.
David menghela napasnya. “Tapi itu juga udah cukup buat saya, Bu. Nggak sekalian ibu kasih F?” tanya David.
Bu Mondang mengepalkan tangannya. Ku tebak, perempuan itu pasti sudah sangat marah.
“Bu!” Aku angkat tangan. Dia melirikku sekarang. “Maaf karena dia bersifat kayak gitu, Bu,” kataku. Bu Mondang mengerutkan keningnya. “Kenapa kamu ikut campur? Kamu pacarnya sekarang?” tanya Bu Mondang.
Aku segera menggeleng. “Yaudah. Nggak usah ikut campur,” katanya. Sial! Aku ingin mengumpat sekarang ini juga.
***
“Kau kenapa harus ribut sama Bu Mondang sih, hah? Kalau kau sampai bermasalah ke dia, nilai sikapmu bakal jelek di rapor!” ucapku.
David menatapku serius. “Dia nyindir-nyindir kau, Uli! Dia yang duluan,” katanya.
“Dav, kalau aja nilai sikapmu dapat C, kau ada di zona merah,” kataku. David tertawa kecil. “Dan kau nggak mau, aku di dalam zona merah?” tanyanya. Aku segera buang muka. David kembali tertawa. “Makasih udah peduli,” ucapnya.
Jam pelajaran kembali berlangsung. Hingga pukul dua siang, jam pelajaran berakhir. David datang ke mejaku. Aku menatapnya heran.
“Ngapain?” tanyaku singkat.
“Yah mau pulang bareng,” kata dia. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku menggendong tas ku, sementara David mengikuti aku dari belakang.
“Kau nggak berniat boncengan naik sepeda kan?” tanyaku. David mengerutkan keningnya.
“Kenapa memang?” tanya dia, membuatku otomatis menghentikan langkah kaki. “Kau gila? Udah nggak waras kau. Bisa penyot sepedaku kalau boncengan sama kau,” kataku kesal.
David tertawa kecil. “Aku nggak gemuk-gemuk kali tuh. Masa iya langsung penyot?”
“Ya, tapi masalahnya, aku nggak pernah bawa orang naik sepeda!” seruku.
“Oh, yaudah. Aku yang bawa. Kau yang ku bonceng,” kata David yang lagi membuatku mati ekspresi.
“Kau hanya takut, Uli. Sepedamu itu kuat. Kau nggak usah takut,” kata David meyakinkan. Dan aku benci ekspresi itu. Kami berdua ada di parkiran sekarang.
Aku menghela napas berulang kali, begitu David menaiki sepedaku. Dia menepuk bangku di belakangnya. “Ayo,” katanya.
Aku melirik ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan tidak ada orang, aku segera menaiki sepeda. David malah dengan kurang ajarnya, menarik tanganku untuk memeluk pinggangnya. Segera ku jauhkan tanganku dari sana. “Gila kali kau!” sentakku.
Dan dia, hanya tertawa.
"Besok-besok kalau motorku udah selesai di perbaiki, aku bakal ngantar kau ke manapun kau mau," ucapnya. Tidak ku kasih respon.
Sepanjang kami di perjalanan, bahkan ketika kami melewati pinggiran sawah, David banyak bercerita. Tentang David yang pernah ngompol di sekolah, tentang David yang suka daging bebek, tentang David yang alergi dengan tauge dan banyak hal lagi.
Hingga kami sampai di rumah. “.... tapi, aku pernah makan bakwan yang isinya ada tauge. Setelah itu, aku trauma makan bakwan.” Aku hanya menanggapi semua ucapannya dengan kekehan-kekehan kecil.
Segera aku turun. Rasanya seluruh tubuhku sangat pegal. Bapak ada di dalam. Dia sedang menonton TV. Begitu aku masuk, dia segera bangkit.
“Bah, udah pulang kau Boru?” Dia tersenyum lebar. Aku mengangguk pelan. David ikut masuk, membuat Bapak terkejut. “Kalian ke sini naik apa? Kereta?” tanya Bapak.
David segera angkat bicara. “Di sini ada kereta api, Om?” tanya dia yang membuat Bapak terdiam beberapa saat. Setelah itu, aku dan Bapak tertawa terbahak-bahak.
***
~BECAUSE OF FATE~
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Fate [END]
Teen Fiction"Kalau memang perbedaan antara kita berdua menjadikan kontra sama Bapakmu, aku nggak masalah, Uli. Apapun yang terjadi nanti, kita tetap jalani berdua. Akhirnya gimana, kita serahin ke Tuhan," kata David. "Tuhanku, atau Tuhanmu?" tanyaku. David dia...
![Because of Fate [END]](https://img.wattpad.com/cover/233634518-64-k910828.jpg)