#Lolos

17 1 0
                                        

Satu Minggu telah berlalu. Pagi ini cukup dingin. Namun aku harus memaksakan diri sendiri untuk bersiap ke sekolah. Ku keluarkan sepeda dari dalam gudang. Karena semalaman hujan, jadi jalan cukup becek. Yaa, seperti biasanya dulu. Aku membungkus sepatuku dengan plastik. Supaya nanti saat di sekolah tidak jorok maupun basah.

Mungkin jika hubunganku dan David masih baik-baik saja, aku tidak akan merasakan hal ini lagi. Eh, aku bukan bermaksud memanfaatkan David. Tidak sama sekali. Aku hanya merasa bahwa ketika aku dengan David, semuanya seperti tampak lebih baik.

Lupakan tentang David. Aku tidak ingin mengingatnya pagi-pagi begini. Setelah berpamitan dengan Bapak, aku segera mengayuh sepeda menuju sekolah. Terhitung sekitar lima belas menit lamanya, aku membawa sepedaku masuk ke dalam parkiran. Terlebih dahulu aku melepaskan plastik yang melekat di sepatuku.

Aku hendak melangkah menuju lapangan begitu memarkirkan sepeda, namun sudut mataku menangkap sosok David. Dia—sedang berbincang dengan seorang perempuan berkerudung. Mereka berdua tampak serius berbicara. Aku segera pergi dari sana. Bahaya jika hatiku semakin memanas nanti.

Ku letakkan tasku di bangku. Ida tidak ada di dalam kelas. Namun tasnya ada di bangku. Romian berjalan ke arahku. "Tadi Ida cariin kau," ucapnya.

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Karena sebelum aku berangkat ke sekolah tadi, Ida sudah menghubungiku berulang kali. Sekarang, batang hidungnya malah tak terlihat.

Bel berbunyi, pertanda baris berbaris akan segera di mulai. Dan Ida, dia belum terlihat sekarang. Aku memutuskan untuk ke barisan bersama Romian. Saat itu pula lah, David berjalan melewatiku untuk meletakkan tasnya di bangku.

Yah, tentu saja tanpa sapa.

Lagi pula, untuk apa aku masih berharap? Pun, sepertinya dia tampak cocok dengan perempuan berhijab tadi. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Dia anak baru? Atau apa?

Seseorang memukul pundakku buru-buru, membuatku menoleh. Ida menghampiri aku saat sudah berada di barisan.

"Ida! Kau dari mana aja?" tanyaku.

Ida menunjukkan deretan giginya. "Uli, asal kau tau yaa. Aku lihat David sama cewe tadii." Dia mengucapkannya dengan sangat excited.

"Cewek pakai jilbab?" tanyaku.

Dia kembali mengangguk semangat. "Si David kurang ajar kalii. Jelas-jelas kalian baru putus. Masa langsung dapat cewek baru? Asing kali ku lihat."

Aku menghela napas malas. "Udah lah, Ida. Itu urusan dia. Bukan urusan kita."

"Yaaa aku ngga terima kalau kau di buat kayak begini! Kalian putus karena beda agama. Masa dia langsung dapat cewek yang satu agama sama dia?"

"Yaa bagus dong, Ida?" sahutku. Ida menggeleng cepat. "Nggak. Sama sekali nggak ada bagus-bagusnya. Macam mana pulak!"

Aku menghela napasku.

"Setelah ku cari tau, rupa-rupanya cewek yang sama si David itu namanya si Sri. Anak pindahan. Kok bisa ya? Padahal ini udah mau kenaikan kelas. Pasti ada orang dalamnya ini."

Mau namanya siapa, dia anak pindahan atau tidak, aku tidak peduli. Buat apa juga aku harus mengetahuinya? Toh, apa yang di lakukan David saat ini sudah betul.

"Idaa. Udah ya? Nanti aja lagi lanjut. Kau nggak mau kenak marah karena ribut waktu baris kan?" sahutku.

"Esssss. Nggak terima loh akuu. Aku masih anggap kalian berdua itu pacaran. Gitu lah attong cowok ini kan. Baru juga putus udah dekat sama cewek lain. Taik kali si David ana. Lihat aja. Nggak bakalan ku cakapi dia."

Because of Fate [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang