"Permisi Bu Dokter. Pasien atas nama Bu Damayanti sudah sadarkan diri."
Aku menoleh ke arah suster Nara. Aku mengangguk kemudian meraih sneli di atas meja, setelah itu segera ku kenakan di leher. Pasien bernama Damayanti ini berusia hampir sama dengan Bapak. Dia kecelakaan seminggu yang lalu dan berakhir koma. Syukur sekarang dia sadar.
Begitu sampai di ruangan tempat Bu Damayanti di rawat, aku segera memeriksa dadanya dengan sneli. "Detak jantung sudah normal." Aku tersenyum simpul kemudian menatapnya. Aku tak tau kenapa. Begitu melihat mata yang seperti nya sangat kelelahan itu, terlintas di pikiranku wajah Dame.
Mata mereka begitu mirip. Andai saja aku pernah bertemu dengan ibunya Dame, mungkin aku sudah bisa mengenalinya dengan mudah.
"Bagaimana perasaan Bu Damayanti? Apa ada yang sakit?"
"Kepala saya pusing Dokter."
Aku mengangguk kemudian mencatat di buku kecil yang ku bawa dari ruangan ku. "Ada keluhan apa lagi? Supaya nanti kalau ada apa-apa, bisa segera di obati," kataku ramah.
"Tidak ada. Saya hanya, merasa takut."
Aku mengalihkan pandanganku dari buku kemudian menatapnya. "Takut kenapa, Bu?"
"Saya bermimpi tentang anak saya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu."
Mengapa aku berpikir jika orang ini adalah ibunya Dame?
"Saya-saya takut. Saya merasa bersalah." Dia kembali melanjutkan ucapannya.
Sekarang, dia tiba-tiba menangis. "Masihol au Boruu." (Aku merindukanmu putriku). Dia menangis terisak-isak. Aku menyentuh lengannya, kemudian mengelusnya pelan. Sementara Nara segera memberikan segelas air putih, yang langsung di teguk oleh Bu Damayanti setengah.
"Maaf sebelumnya saya lancang, Bu. Anaknya Ibu meninggal karena apa kalau saya boleh tau?"
Dia melirik ku. Bibirnya ingin menjawab, namun dia seperti ketakutan. Aku kembali mengelus lengannya, kemudian membantu dia untuk duduk bersandar di bangsal. "Ngga apa-apa, Bu. Ceritain aja, biar ibu lega."
Dia mengangguk kemudian segera meneguk air di gelas. "Anak saya, gantung diri."
Aku segera mematung. "Dia melakukan hal tersebut karena dia hamil di luar nikah." Dia kembali menangis tersedu-sedu. "Saya kecewa sama dia, saya usir dia dari rumah karena dia buat saya malu."
Aku menarik napasku dalam-dalam. "Ibu, orang tua Dame?" tanyaku, yang membuatnya reflek menatapku terkejut. "Ka-kamu kenal Dame?" Tercengang dia menatapku.
Aku mengangguk sekali. "Dia anak yang baik, Bu." Aku tersenyum simpul mengingatnya.
Kemarin itu, waktu kenaikan kelas sebelas, dia menghampiri aku yang tengah duduk di dekat parkiran. Sedang menunggu Ida membeli es tebu.
"Oi!" Dame, dengan rambutnya yang sebahu itu berjalan menghampiri aku.
"Iya?" jawabku sekenanya.
"Kau Uli kan?" tanya dia. Aku mengangguk kemudian lekas bertanya, "Iya. Kenapa?"
"Aku mau ngajak kau bergabung di tim paskibra. Ah iya. Namaku Dame." Dia mengulurkan tangannya ke arahku.
Ku terima uluran tangannya singkat. "Kau mengajakku ikut jadi anggota paskib? Kau lagi mengejekku?" tanyaku sedikit kesal.
"Maksudnya?" Dia kembali bertanya.
Aku berdecak malas. "Kau pikir saja sendiri. Memangnya paskibra ada yang sependek aku?" tanyaku lirih.
Itu kali pertama aku bertemu Dame. Kami berdua saling mengenal setelah pertemuan itu, hingga pada akhirnya aku sadar. Dame tidak serius mengajak aku untuk bergabung ke dalam tim paskibra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Fate [END]
Teen Fiction"Kalau memang perbedaan antara kita berdua menjadikan kontra sama Bapakmu, aku nggak masalah, Uli. Apapun yang terjadi nanti, kita tetap jalani berdua. Akhirnya gimana, kita serahin ke Tuhan," kata David. "Tuhanku, atau Tuhanmu?" tanyaku. David dia...
![Because of Fate [END]](https://img.wattpad.com/cover/233634518-64-k910828.jpg)