Begitu kami turun, tepatnya di toko jam tangan, David segera menggenggam tanganku, untuk ikut berlari menghindari gerimis. "Biasanya yang gerimis kayak begini, bikin demam. Pilek apa lagi." David berucap.
Aku mengangguk kecil, seraya menjauhkan tanganku darinya. David menggaruk kepalanya pelan. "Sorii. Itu reflek," ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan kekehan kecil.
Akhirnya kami melangkah ke dalam toko, untuk melihat-lihat jam tangan yang berjejer di sana. Aku menyentuh satu jam tangan berwarna hitam, dan saat itu juga David menyentuh jam tangan tersebut. Tangan kami bersentuhan. Aku hanya tertawa kecil untuk menutupi rasa gugup. Sungguh, ini pertama kalinya aku gugup dengan laki-laki.
David juga segera menjauhkan tangannya. Membuatku dengan leluasa mengangkat jam tangan itu ke atas, melihat-melihatnya sebentar. "Yang ini bagus," ucapku.
David mengangguk. "Tapi itu cocoknya untuk anak ABG. Kayak aku sama kau. Lain halnya kalau kau anggep Bapak masih ABG," kata David. Aku tertawa kecil, kemudian meletakkan kembali jam tangan tersebut ke tempatnya.
"Kau suka?" tanya dia.
Aku menatapnya. Pandangan kami bersirubuk. Aku mengangguk kecil menanggapi ucapannya. "Tapi lain kali deh. Lagian, kita ke sini mau beli jam tangan buat bapak."
David mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku kembali mencari-cari jam tangan yang sekiranya menarik di hati. David berujar, "Yang ini kayaknya cocok sama Om."
Aku menoleh ke arahnya. Jam tangan aluminium, yang ku tebak harganya mahal. Aku mengangguk kecil.
"Iya, itu bagus," kataku. David mengangguk pelan. Aku bertanya pada sang pemilik toko. "Tulang, ini jam tangannya harganya berapa?"
"Seratus delapan puluh, Adek."
Penuturan pemilik toko tersebut membuatku segera terdiam. "Nggak kurang lagi?" bisikku pelan. David sedang pergi melihat jam tangan yang lain.
"Enggak lagi, Dek. Yang ini kualitasnya bagus. Jadi Adek enggak perlu cemas. Nggak bikin Adek kecewa deh. Ini barang dari Jawa."
Aku tersenyum simpul, kemudian mengeluarkan dua lembar uang seratus. Jam tangan tersebut segera di bungkus berserta kotaknya. Kemudian di berikan padaku beserta uang kembaliannya.
Begitu selesai, aku segera melangkah keluar. David menyuruhku duluan. Katanya dia mau numpang ke toilet di dalam toko jam tangan tersebut.
Kira-kira sebelas menit, David segera keluar. Aku dan dia sekarang berjalan beriringan di dalam pasar sayuran. Aku ingin memasak makanan kesukaan Bapak. Begitu membeli bahan-bahannya, aku dan David segera berbalik ke arah motor di parkir kan.
Syukur hujan sudah tidak datang lagi. Aku segera naik ke atas motor, begitu David naik pastinya. "Pegangan, Li. Kita mau ngebut ini. Nanti hujan lagi. Kalau kau sakit, yang jagain Om siapa?" tanya David. Aku terkekeh kecil kemudian mengangguk.
"Kan masih ada kau," jawabku. David tertawa kecil. "Yaudah kalau gitu. Lain topik deh. Kalau kau sakit, entar kau nggak masuk sekolah. Aku nggak bakal semangat lagi," katanya. Aku tertawa renyah. Kami meninggalkan pasar, memasuki jalan umum, di mana banyak kendaraan lalu lalang.
Sebelum kembali ke rumah, David menghentikan motornya di area toko kue. Aku mengernyitkan dahi. Aku tidak memintanya berhenti di sini.
"Kenapa berhenti di sini?" tanyaku pelan. David melirikku dari kaca spion. "Kan harus beli kue," ucapnya. Aku menggeleng cepat. "Bapak nggak suka kue. Makanya di gantiin sama masak sop kesukaan Bapak."
"Oh gitu. Aku nggak tau, hehehe."
Motor David kembali berjalan. Belanjaan yang tadi sudah ku masukkan ke dalam tas. David menarik tanganku untuk melingkar di pinggangnya. Situasi menjadi canggung. Namun aku berusaha menikmati rasa canggung tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Fate [END]
Ficção Adolescente"Kalau memang perbedaan antara kita berdua menjadikan kontra sama Bapakmu, aku nggak masalah, Uli. Apapun yang terjadi nanti, kita tetap jalani berdua. Akhirnya gimana, kita serahin ke Tuhan," kata David. "Tuhanku, atau Tuhanmu?" tanyaku. David dia...
![Because of Fate [END]](https://img.wattpad.com/cover/233634518-64-k910828.jpg)