"Bukan berarti kalau kau kirim uang ke Bapakmu tiap bulan, itu udah cukup Uli. Yang Tulang butuhkan saat ini, kau hadir di sampingnya. Bapakmu sudah tua Uli. Dia butuh banyak perhatian dari anaknya. Dan kau satu-satunya anaknya. Satu-satunya harta yang dia punya, yang buat dia bertahan hidup sampai sekarang, karena dia pengen menua dengan kau, Uli. Dia berharap suatu saat nanti, kau akan menikah dan memiliki seorang anak yang membuat Bapakmu di panggil Oppung. Abang berharap penuh agar kau segera pulang."
Kalimat Bang Tobok kembali terngiang-ngiang.
Sekarang aku pulang. Aku tak tau bagaimana respon Bapak setelah bertemu denganku nanti.
Aku memejamkan kedua mataku. Aku dan Bang Dion berada di dalam pesawat. Kepalaku ku biarkan bersandar di bahunya. Bang Dion meminta cuti seminggu pada atasannya. Aku tak menyangka dia bisa senekat ini. Semalam, dia baru menyatakan perasannya padaku. Ah sejenis itu deh. Aku tak bisa mengatakan apa-apa karena bibirku seperti di lem luar dalam.
Syukur saja bunyi ponsel Bang Dion membuat keadaan yang sangat canggung itu segera berakhir. Dia tak lagi membahas peristiwa yang semalam. Yang pasti, setelah kejadian itu, aku merasa lebih dekat dengannya.
Sedari tadi, dia selalu sibuk karenaku. Sebenarnya aku tak memintanya begini. Dia saja yang selalu merasa jika sekarang aku tanggung jawabnya.
"Dek, kamu mau makan apa?"
"Dek, jangan makan yang berat-berat dulu ya. Nanti di pesawat sakit perut, bahaya. Kan nggak enak di lihat penumpang lainnya kalau bolak balik ke toilet." Aku merasa jika dia melupakan profesi ku sebagai seorang Dokter.
Padahal aku sendiri tau apa yang tidak dan apa yang pantas aku konsumsi saat ingin bepergian.
"Kan saya udah kasih kamu hoodie. Kamu pakai hoodie aja ya. Biar hangat."
"Kamu mau kopi nggak, di pesawat nanti? Biar saya siapin di termos."
Ya ampun. Kita bisa meminta pramugari membuatkan kopi. Aku merasa jika dia terlalu perhatian padaku. Hal yang membuatku merasa jantungan.
Seperti saat ini. Aku memang memejamkan kedua mataku. Kepalaku juga bersandar di bahunya. Sementara Bang Dion tengah membaca buku yang tak ku tahu buku apa. Yang pasti, aku tak tidur. Lebih tepatnya berpura-pura tidur.
Aku menggerakkan kepalaku yang sedikit sakit, membuat Bang Dion menoleh ke arahku sambil bertanya, "Kamu butuh apa-apa?" tanya dia.
Aku terkekeh kecil kemudian menggeleng. "Kepala saya cuma pegal aja. Makanya saya gerak."
Dia mengangguk kecil seraya membaca bukunya kembali. Aku yang penasaran, melirik buku yang dia pegang.
‘Patah hati terhebat’
Judul buku yang dia baca. Bang Dion melirikku, "Kamu mau baca? Bagus bukunya," katanya.
Aku mengernyit menatap sampul buku itu. "Itu buku siapa?" tanyaku.
"Emm, ini di kasih sama pramugarinya. Mau baca nggak?" tanya dia lagi.
Aku mengangguk kemudian menerima buku tersebut. ‘Patah hati terhebat’ karya penulis best seller bernama Kean? Apa ini Kean seperti yang ada di dalam kepalaku?
Ku perhatikan sampulnya lekat. Ada kalimat kecil di sudut buku.
‘Buku ini di persembahkan untuk seseorang yang bercita-cita sebagai seorang Dokter, yang pernah mewarnai masa SMA saya. Perempuan dengan matanya yang bersinar setiap kali membaca sebuah puisi. Perempuan yang pernah duduk berdua dengan saya, di sebuah bangku dengan sepasang headset. Semoga buku ini sampai di tangan kamu, dan semoga setelah kamu membaca buku ini, kamu berkenan untuk kembali mengenang saya di dalam hati serta pikiran kamu’
KAMU SEDANG MEMBACA
Because of Fate [END]
Dla nastolatków"Kalau memang perbedaan antara kita berdua menjadikan kontra sama Bapakmu, aku nggak masalah, Uli. Apapun yang terjadi nanti, kita tetap jalani berdua. Akhirnya gimana, kita serahin ke Tuhan," kata David. "Tuhanku, atau Tuhanmu?" tanyaku. David dia...
![Because of Fate [END]](https://img.wattpad.com/cover/233634518-64-k910828.jpg)