#Tentang Dame

75 21 22
                                        

"Aku Uli. Kawannya Dame," ucapku begitu aku bertemu dengan perempuan berambut keriting. Dia mengunyah permen karet di mulutnya. "Terus?" tanyanya.

Sedikit tidak ramah. Mungkin karena dia tak mengenalku. "Aku pengen tau cerita tentang si Dame, Mar," ucapku.

Ida menghela nafasnya. "Mar, gerah kali loh aku. Enggak ada niat kau kasih aku minum?" tanya Ida. Refleks membuatku menyenggol lengannya.

Marito menghela napasnya. "Kau itu tamu nggak di undang ke rumah ku! Malah ngelunjak," ucapnya garang.

Ida semakin menjadi-jadi. "Mau tamu nggak di undang kek, yang namanya tamu harus di layani dengan baik," katanya.

Ya, ampun!

Pada akhirnya, Marito pergi ke dapur untuk membuatkan dua gelas teh manis dingin. Ida menerima teh tersebut dengan senang hati.

"Gini attong. Baru lah mantap." Ida meneguknya hingga habis setengah.

Keadaan kembali hening. Marito segera angkat suara setelah kembali adu bacot dengan Ida. "Jadi, aku udah sering kali lihat Dame keluar malam. Aku juga sering dengar ribut-ribut di rumahnya. Bahkan Mamaknya selalu main fisik sama si Dame. Si Dame juga anak satu-satunya. Bapaknya udah meninggal karena sakit jantung."

Mengenai fakta bahwa Dame anak yatim, aku tau. Tapi kondisinya selama ini, aku sama sekali tak tau. "Sebelumnya Dame udah sering nggak masuk sekolah. Mamaknya ngusir dia dari rumah."

Aku kaget setengah mati!

"Terus, ada kabar beredar kalau si Dame hamil. Si cowok nggak mau tanggung jawab. Dame pulang ke rumahnya.  Mamaknya malah emosi dan memukuli dia di belakang rumah. Aku lihat sendiri. Si Dame sampai berdarah-darah. Mamaknya sampai dorong kepalanya berulang kali ke dinding. Duh, seram kali."

Aku menghela napas berat. Teringat dengan ucapan Dame hari itu. “Bukan Dame namanya kalau nggak kasih solusi,”

Buktinya, Dame tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Sedih sekali rasanya. "Lusa setelah kejadian itu, waktu mamaknya belanja ke pajak, dia kaget waktu lihat si Dame udah mati dalam posisi gantung diri di belakang rumah."

Ida segera angkat suara. "Kau lihat nggak?" tanyanya. Marito menggeleng. "Aku lihatnya pas dia udah di dalam peti."

"Mar, kau tau kuburannya ada di mana?" tanyaku cepat. Marito mengangguk. "Di belakang rumahnya. Tapi aku nggak berani ke sana," ucapnya.

"Kenapa?" tanyaku cepat. Marito menghela nafasnya. "Aku takut lah. Dia pernah minta tolong ke aku, supaya dia tinggal di rumahku untuk satu malam karena hari itu hujan. Mamaknya ngusir dia. Dia nggak tau mau pulang ke mana."

"Kenapa nggak kau kasih dia tinggal semalam di rumah kau?" tanya Ida. Marito menghela napasnya.

"Mamakku itu, nggak suka sama keluarga mereka. Boro-boro lah ku kasih ijin."

"Kenapa enggak suka?" tanyaku. "Karena utang. Mereka punya utang puluhan juta. Sampai sekarang nggak di bayar. Sekarang, mamaknya malah pergi pulang ke kampungnya. Rumahnya jadi seram," sahut Marito lagi.

"Mar, kau mau temani aku ke sana kan?" tanyaku.

"Ke kuburannya dia?" tanya Marito panik. Aku mengangguk sekali. Marito segera menggeleng. "Nggak! Aku mana berani," katanya.

"Minta tolong, Mar. Kau kan di kenal orang-orang di komplek ini. Masa aku sama Ida pergi ke sana berdua aja?" tanyaku.

Ida menyenggol lengan ku. "Eh bodat. Kok kau bawa-bawa pulak nama ku? Aku mana mau!"

Aku menatap Ida lamat-lamat. Belum bicara apapun, Ida segera berdecak kesal. "Yaudah iya! Ku kawani. Tapi kalau si Marito ikut juga!" kata Ida. Aku menatap Marito. Pada akhirnya dia mengangguk malas.

***

Kami bertiga sudah ada di makam Dame. Aku membersihkan beberapa daun yang jatuh ke atasnya. "Dame, maaf karena aku baru bisa datang sekarang," ucapku.

Aku menghela napas panjang. "Maaf karena selama ini, aku nggak bisa bantu kau."

Aku menaburkan air mineral yang ku beli beberapa menit yang lalu. "Beristirahatlah dengan tenang. Aku nggak bakal lupa sama sosok Dame yang selalu terlihat kuat di sekolah. Aku nggak bakal pernah lupain kau, Dam. Besok-besok, aku bakalan datang ke sini lagi. Supaya kau nggak terlalu ngerasain sepi di sini." Aku tersenyum simpul. "Kami pulang dulu, Dam." Aku segera bangkit, di ikuti oleh Ida dan Marito.

Kami meninggalkan komplek pemakaman Dame, aku dan Ida memilih untuk pulang dengan angkot. Padahal aku sendiri tau. David sedang mencariku sedari tadi. Ada belasan kali panggilan tak terjawab darinya.

Begitu sampai rumah, aku kaget saat melihat motor David terparkir di hadapan rumah. David sendirian. Karena aku tau, Bapak tidak di rumah. Dia ke ladang bersama Bang Tobok.

"Kau ke mana aja sih, Uli?" tanya David cepat. Aku menghela napas panjang, kemudian segera meletakkan tas di bangku teras.

"Tadi pagi, kau larang aku buat jemput kau. Oke, ku iyakan. Tadi siang? Kau bahkan cuekin aku di kelas. Aku bingung salahku di mana. Kau pulang naik angkot sama Ida. Padahal aku udah nungguin kau di parkiran. Aku nelpon kau tiga belas kali! Enggak kau angkat. Chatku juga nggak kau balas. Kau baca juga enggak. Aku salah apa sih? Jangan lah kau diamkan aku kayak gini, Uli!" David menatapku dengan napas naik turun.

"Kau enggak salah apa-apa. Kenapa sih?" sahutku kebingungan. "Terus, kenapa kau cuekin aku?" Dia kembali bertanya.

"Aku nggak cuekin kau. Aku cuman ada urusan sama Ida tadi," jawabku.

"Kau kan bisa ku temani. Kenapa harus sama Ida?"

"Ini urusan perempuan. Lain halnya kalau kau itu perempuan."

David pada akhirnya menghela napas lega. "Ku pikir ada masalah lain yang buat kau cuekin aku dari tadi." Ku balas dengan gelengan kepala.

"Tulang ada?" tanya David. Aku kembali menggeleng. "Dia ke ladang kayanya. Kenapa memangnya?" tanyaku balik, sembari membukakan pintu.

"Aku panik karena kau. Makanya nggak bawa martabak kesukaan Tulang," ucapnya yang membuatku tersenyum kecil.

"Udah makan belum? Mau ku masakin?" tawarku. Dia menggeleng pelan. "Aku pengen ngajak kau makan di luar," jawabnya.

"Eh? Tumben."

"Lagi pengen aja. Sekalian, aku pengen bawa kau jalan-jalan sore."

"Oh ya?"

"Hm."

"Ke mana?"

"Suka-suka ku lah. Nanti juga kau tau," ucapnya yang membuatku menghela napas jengkel.

***

~BECAUSE OF FATE~

Because of Fate [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang