#Persetujuan

14 1 0
                                        

Begitu sampai di rumah sakit, aku melangkah ke ruangan Bapak. Aku sedikit kaget ketika mendengar suara Bapak tengah berbincang. Buru-buru aku membuka pintu.

Bapak sedang berbincang dengan Bang Tobok. Posisi Bang Tobok sedang membelakangi pintu.

Senyumku mengembang saat mengetahui Bapak sudah sadar. Aku hendak bergabung dengan keduanya, namun ku urungkan langkahku. Keduanya sepertinya membicarakan sesuatu tentang aku. Hati kecilku bahkan nyeri mendengar percakapan Bapak dan Bang Tobok.

Bang Tobok memegang lengan Bapak. Dia tampak mengelus nya pelan. Persis seperti ayah dan anak.

"Tulang, apapun yang terjadi, Uli harus kuliah."

Begitu mendengar perkataannya, Bapak terlihat menghela napas panjang. "Bukannya aku nggak mau Uli kuliah. Mau sekali pun Tulang lihat dia kuliah. Tapi Tobok, Tulang gak mau jauh-jauh dari Uli. Kau sendiri tau, Tobok. Uli satu-satunya harta Tulang di dunia ini."

Air mataku seketika menitik.

"Tobok tauu. Tapi, mau sampai kapan begini Tulang? Uli juga berhak memilih tempat di mana dia kuliah. Biarkan lah dia meraih cita-cita nya, Tulang."

"Kenapa pulak jadi kau gak setuju? Bukannya dulu kau juga nyuruh dia buat gak kuliah jauh-jauh?" tanya Bapak.

Bang Tobok menghela napas panjang. "Belajar dari kegagalan Tulang." Bang Tobok menengadahkan kepalanya ke penjuru ruangan.

"Aku udah anggap Uli kayak adekku sendiri, Tulang. Jadi kalau aku gagal, Uli gak boleh gagal! Dia harus kuliah. Dia harus meraih cita-citanya. Apapun bakal ku buat, asal dia berhasil meraih mimpinya jadi Dokter. Aku, nggak mau dia gagal kayak aku, Tulang."

Bang Tobok menatap Bapak.

"Kalau bukan Uli, siapa yang bakalan merubah ekonomi keluarga Tulang? Uli gak boleh miskin kayak kita, Tulang. Supaya nanti, dia nggak di injak-injak orang kaya di luar sana. Uli, harus jadi perempuan sukses."

Aku segera membuang pandanganku. Air mataku jatuh semakin banyak. Kedua pipiku basah, persis seperti baru membasuh wajah.

"Dengar kata-kataku, Tulang. Uli, punya jalannya sendiri. Aku, Tulang, nggak bisa memaksakan kehendak kita buat dia."

Masih bisa ku dengar jelas suara Bang Tobok. Aku buru-buru menghapus air mataku. Ku tarik napasku dalam-dalam, kemudian segera pergi dari sana. Bahaya jika aku ketahuan, dan Bapak bertanya mengapa wajahku merah.

Di taman rumah sakit, aku mengeluarkan seluruh tangisku. Bahkan saat beberapa orang melihatku menangis sesegukan. Aku merasa sangat egois karena sudah melawan Bapak dan berniat meninggalkannya. Sementara di lain sisi, Bang Tobok sungguh-sungguh mendukung keegoisan yang ku perbuat.

Pecah sudah tangisku. Namun suara seseorang membuatku buru-buru menghapus air mata, kemudian segera menoleh.

"Hidup emang nyebelin. Tapi gak selalu kok. Di rumah sakit emang paling banyak di temui orang-orang yang suka nangis."

Aku menatap laki-laki bertubuh bongsor dengan kaos abu-abu dan celana jeans berwarna putih pucat itu.

Dia menatapku sekarang.

"Nangis aja kali. Kenapa mendadak berhenti?" tanyanya.

Aku membuang pandanganku, dan hendak melangkah pergi. Namun, dia malah menahan tanganku. Aku melirik tangannya sinis.

"Eh, maaf-maaf. "

Dia lekas melepas cekalan tangannya. Aku buru-buru melangkah dari sana. Buat apa juga aku berlama-lama dengan orang yang tak ku kenal?

Because of Fate [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang