#Kata-kata Kean

16 1 0
                                        

Aku memeluk lututku. Sedari tadi aku hanya mampu menangis. Bahkan mungkin wajahku sudah berubah menjadi merah.

Bapak, dia sudah di tangani oleh Dokter. Kata Bang Tobok, aku tidak perlu khawatir. Tapi bagaimana caranya untuk tidak cemas?

Sebuah usapan mendarat di punggungku. "Engga capek kau nangis?" tanya Bang Tobok. Aku segera mendongak menatapnya.

Ku dekap dia dengan erat. "Ini salahku, Bang. Bapak kayak gini karena aku."

Bang Tobok melepaskan dekapannya. Dia menatapku kebingungan. "Kau ngomong apa? Kau sendiri tau kalau Tulang juga pernah masuk rumah sakit sebelumnya."

Aku terisak. "Semalam kami berantem." Ucapanku barusan membuat Bang Tobok terkejut.

"Aku—dapat beasiswa ke Jawa. Bapak nggak setuju."

Bang Tobok menghela napasnya. "Aku nggak tau bakalan kek gitu kejadiannya, Bang," sahutku.

Bang Tobok memijat pelipisnya. Dia kembali menarikku ke dalam dekapannya. Tangisku kembali pecah.

"Bapak sakit karena aku! Bapak masuk rumah sakit karena aku."

Bang Tobok memelukku semakin erat. "Ini bukan salah kau, Uli." Ucapan yang sedikit membuat hatiku tenang.

***

"Biar Abang aja yang jaga Tulang. Kau boleh pulang. Besok kau masih sekolah," kata Bang Tobok sembari memberiku satu buah roti.

"Makan rotinya. Tadi siang kan belom makan. Sekarang udah jam lima sore."

Aku menerima roti tersebut. "Makasih, Bang," kataku yang di balas anggukan darinya. Aku segera beranjak. Ku lirik Bapak yang kini terlelap. Aku tersenyum kecut. Air mataku kembali jatuh.

Aku benar-benar tidak ingin kehilangan Bapak. Kehilangan Ibu sudah cukup menyakitkan. Ku usap air mata yang mengalir di pipiku pelan. Mungkin aku akan menolak beasiswa ini. Bahkan jika aku tak bisa meraih impianku yang tinggal selangkah lagi. Bapak lebih penting saat ini. Mana mungkin aku meninggalkan Bapak dalam keadaan seperti ini.

Bang Tobok menepuk pundakku kecil. Dia menggerakkan kepalanya, menyuruhku untuk pulang. Aku mengangguk kemudian segera melangkah pergi.

Sesampainya aku di rumah, Kean sedang menungguku di teras. Aku kaget melihatnya di sini. "Kean?" tanyaku retoris.

Dia segera bangkit dari bangku. "Aku khawatir sama kau, Uli." Ucapannya barusan membuatku sedikit menghangat.

"Kau dari mana aja?" tanya dia lagi. Ada nada cemas di kalimatnya barusan.

"Rumah sakit," sahutku.

"Hah? Rumah sakit? Kau sakit?" tanyanya beruntun.

"Bapak," jawabku pelan.

"Jadi sekarang gimana kabarnya? Baik-baik aja?" tanyanya.

Aku menghela napas dalam-dalam. "Belom sadarkan diri. Tapi dia udah di tangani Dokter."

Kami berdua duduk di teras. Hening. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Ini salahku, Kean. Aku yang buat Bapak masuk rumah sakit."

Aku melirik Kean sekilas. Dia menatapku bingung. Aku menarik napas panjang. "Bapak ada gejala sakit jantung. Sakit itu kambuh karena aku. Bapak marah. Dia nggak setuju aku ambil beasiswa kedokteran di Jawa."

Because of Fate [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang