Raga Artajiwa. Seperti namanya, Raga. Dia Raga untuk Keisha, dan juga Raga untuk Khanza.
Bagi Keisha Lavanya, Raga tidak hanya sekedar sahabat tapi juga tempat berpulang dari segala gundah yang terjadi, Raga tempatnya berkeluh-kesah dari segelintir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁🍁
Bicara tentang Keisha Lavanya, pemilik rambut panjang sepinggang yang halusnya sehalus sutra. Mempunyai kesabaran seluas lautan untuk memaafkan segala kesalahan seorang Damian Ilano, banyak hal untuk menggambarkan seorang Keisha namun dengan hal itu dulu sudah bisa mewakili.
Banyak yang bilang hidup Keisha sangat beruntung karena selain cantik dan pintar dia juga bergelimang harta, dengan Maminya yang single parents mampu memenuhi semua kebutuhan Keisha. Sebagai wanita karier yang menjadi petinggi di salah satu bank swasta, dan mempunyai beberapa cabang butik.
Keisha tidak pernah kekurangan kasih sayang dan materi dari Maminya, namun Keisha tidak punya satu yaitu sang Ayah yang sudah berkeluarga lagi.
Setelah Maminya yang melayangkan gugatan cerai saat mendapat kekerasan rumah tangga. Sejak saat itu Maminya sangat protektif dengan Keisha, mulai dengan mewanti-wanti dengan siapa Keisha dekat.
"Kei, makanan kamu belum habis. Liatin apa sih di handphone?" Erina bersuara ketika mendapati gerak-gerik Keisha yang banyak melirik pada layar handphonenya.
Keisha menoleh, ia menunjukkan deretan giginya. "Nggak kok Mam, ini lagi scroll ig doang." alibi Keisha, dengan memasukkan setengah roti panggang ke mulutnya.
"Oh iya, Mami liat Mbak Nuni sibuk bikin egg salad sandwich. Katanya kamu yang suruh, buat siapa Kei?" Mami Erina mengambil tissue untuk mengusap bibirnya, sambil menunggu jawaban dari Keisha.
Keisha mendadak kaku, matanya menelisik ke atas untuk mencoba mencari jawaban yang pas.
"Jawab itu doang kamu kelihatan gelagapan, jangan-jangan kamu nyembunyiin sesuatu dari Mami ya?" Erina menatap Keisha penuh selidik.
Keisha tertawa pelan. "Mami apaan sih, namanya orang lagi makan ya di telen dulu lah baru ngomong. I-itu, buat Raga lah iya."
"Tumben banget Raga,"
"Emang kenapa kalau Raga sih? Biasanya juga Mami suka buatin dia makanan, nah kali ini tuh giliran Kei," Keisha berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Bukan begitu Kei, cuma setahu Mami Raga nggak suka makanan kayak gitu. Dia lebih suka makanan sederhana, bukannya Raga pernah bilang makanan kayak begitu nggak cocok di lidah dia?" Erina terus saja membantah dengan apa yang dia tahu tentang Raga.
Keisha terdiam, kali ini dia cukup sulit untuk berkelit dari Maminya. Ia merutuk seharusnya tidak meminjam nama Raga untuk kali ini, karena ini sangat tidak pas.
"Kei?"
Keisha dengan cepat menatap Erina, sambil tersenyum lebar.