Raga Artajiwa. Seperti namanya, Raga. Dia Raga untuk Keisha, dan juga Raga untuk Khanza.
Bagi Keisha Lavanya, Raga tidak hanya sekedar sahabat tapi juga tempat berpulang dari segala gundah yang terjadi, Raga tempatnya berkeluh-kesah dari segelintir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁🍁
"Kamu tuh jangan sering-sering berdua-duaan sama Khanza di kostan. Inget kalian itu masih sekolah, setan ada di mana-mana." ujar Sonia menasehati Raga yang sedang menyiapkan motornya untuk ke sekolah.
Raga tersenyum kecil, sambil menganggukkan kepalanya. "Aku kesana cuma buat antar jemput Khanza, sama gantiin pasirnya Raza. Sama kalau lagi kangen kucing Raza Bund."
"Sama kalau lagi kangen Khanza kan?" celetuk Sonia, menyerahkan hoodie milik Raga.
Raga terkekeh geli. "Bunda tahu aja. Raga mau pake jaket Bund, bukan hoodie."
"Tau lah, semua laki-laki itu hampir sama pikirannya. Menyeramkan kalau diselami lebih dalam. Tumbenan kamu mau pakai jaket? tapi jaketnya ada didalam, Bunda ambil dulu ya." ujar Sonia berbalik, namun Raga menggeleng pelan mencegahnya.
"Aku aja, maaf lupa bilang tadi. Lagi kepengen pakai jaket, biar bisa berbagi hangatnya sama pacar." kelakarnya, sambil berlari masuk kedalam rumah.
"Tuh kan kamu itu, awas ya sampai kelewat batas." kata Sonia berkacak pinggang, setelah Raga kembali mengambil jaketnya.
"Iya Bunda ku sayang, takut banget kayaknya Raga macem-macem. Kenapa Bund, ayah se brengsek itu juga? Bunda takut Raga kayak pria itu?" kata Raga tersenyum kecut diakhir kalimatnya.
"Raga," tegur Sonia.
Tak menanggapi hal itu lagi, Raga menyalami tangan Bundanya. "Pamit ya Bund,"
"Saya duplikatnya, jadi kenapa tidak?"
Sonia menggeleng cepat, menghalau segala pikiran negatifnya. Tommy Ilano memang ayah kandung Raga, wajar saja Raga mewarisi sifat pria itu. Tidak bisa ditepis bahwa darah pria bajingan itu mengalir deras di tubuh putranya, wajar Sonia juga mempunyai kekhawatiran tersendiri untuk itu.
🍁🍁
"Halo, calon maba. Sibuk banget kayaknya?" Khanza mendudukkan diri dihadapan Raga yang tengah fokus membaca buku SNBT, buku tebal yang berisi ratusan soal latihan itu memang akhir-akhir seringkali dibawa Raga kemana-mana untuk mempelajari isinya.
Raga tidak menjadi siswa kelas akhir yang sia-sia, dengan menunda-nunda tentang persiapannya menuju ke perguruan tinggi. Waktu yang katanya lama lagi itu akan bergulir cepat nyatanya, waktu malam yang terasa singkat lalu besoknya akan berganti pagi.
Raga tersenyum kecil sambil menutup bukunya, meletakkan buku tebal itu disampingnya.
"Kamu bawa apa?" tanya Raga melihat Khanza merogoh sesuatu dari tas bekalnya.