Raga Artajiwa. Seperti namanya, Raga. Dia Raga untuk Keisha, dan juga Raga untuk Khanza.
Bagi Keisha Lavanya, Raga tidak hanya sekedar sahabat tapi juga tempat berpulang dari segala gundah yang terjadi, Raga tempatnya berkeluh-kesah dari segelintir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁🍁
Keisha membuka kedua matanya setelah tertidur setengah jam lamanya, ia menggerakkan tangan kanannya yang baru diganti perbannya oleh suster. Seseorang berdehem pelan duduk di sofa yang berhadapan dengan brankar tempatnya berbaring. Keisha memiringkan tubuhnya, menghindari tatapan penuh intimidasi dari bodyguard baru Maminya.
Marcell Davis, namanya terlalu keren untuk seekor bodyguard kata Keisha untuk Maminya. Wajah dan tubuhnya juga lebih cocok menjadi model pria dalam majalah dewasa, katanya. Jika perempuan gila tampang laki-laki, mungkin mereka akan senang hati dijaga oleh bodyguard semacam Marcell.
Tubuh proporsional dengan tinggi badan mencapai 190cm, memiliki bahu yang lebar, hidung mancung impian semua orang, dan potongan rambut slick back gaya rambut yang dipotong undercut, dengan rambut bagian atas dibuat memanjang agar bisa disisir ke belakang.
"Kamu mau makan apa?" suara Marcell terdengar dekat ditelinga Keisha, laki-laki itu sudah berdiri tepat dibelakang tubuhnya.
"Itu juga bagian dari pekerjaan lo?" Keisha melirik sinis.
Marcell mengangguk. "Ya, memastikan kamu selalu aman dan nyaman. Itu tugas saya kan?" Ia perbaiki posisi bantal Keisha agar tetap nyaman untuk perempuan itu.
"Tapi lo kecolongan, belum ada seminggu lho jadi bodyguard gue." celoteh Keisha, mengangkat satu tangannya yang diperban.
"Gue curiga, apa mungkin lo ini intel yang dikirim Damian? Cuma Mami yang tau panic attack gue bakalan kambuh kalau diingetin lagi soal kasus itu. Jadi, menurut lo siapa yang naruh foto bugil gue dikamar?" pertanyaan penuh selidik dari Keisha untuk Marcell.
Laki-laki yang jauh lebih dewasa dari Keisha ini sontak alisnya terangkat mendengar pertanyaan, bercampur tuduhan halus. "Damian mantan kamu yang narapidana itu bisa bayar saya berapa untuk menjadi intel yang masuk ke hidupmu?"
"Saya sudah memeriksa semua cctv yang ada disetiap sudut rumahmu, tapi sayangnya cctv-nya dirusak lebih dulu sebelum pelakunya menjalankan aksinya. Kata Bu Erina ini cara sampah yang pernah si narapidana itu pakai untuk membawa mu kabur dari rumah. Tapi sayangnya pelakunya terlalu bodoh hingga meninggalkan jejak." Marcell mengangkat sebuah plastik klip berisikan cincin perak.
"Cincin, punya siapa?"
"Lonan Ardelio,"
"Namanya nggak asing, tapi gue lupa dia siapa." jawab Keisha.
Marcell mengangkat kedua bahunya, acuh. "Saya menemukan ini di balkon kamarmu, setelah saya periksa sidik jarinya nama Lonan Ardelio pemilik cincin ini."