50. My whole life for you

225 7 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🍁🍁

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🍁🍁

Raga membukakan pintu mobil untuk Bunda Sonia dan Khanza keluar dari dalam mobil taksi, mereka tiba dikediaman Raga pulang dengan suasana berbeda dimana semuanya sudah terungkap. Bunda Sonia sedikit curi perhatian menatap wajah putranya dari samping, ia tidak menunjukkan berekspresi apapun.

Bunda Sonia tahu, dibalik wajah tenangnya pikiran Raga tengah berkecamuk, dia tahu Raga sulit untuk mengekspresikan diri. Sampai membukakan pintu rumah hingga masuk kedalam kamarnya, melepas sendalnya untuk naik ke atas kasur Raga masih tidak bersuara.

Khanza dan dan Bunda Sonia hanya saling pandang melihat Raga yang beralih membuka gorden jendela rumahnya setelah menaruh obat-obat yang diresepkan dokter untuk Bundanya, mempersilahkan udara untuk masuk dengan aroma tanaman dapur hidup yang menyeruak masuk.

"Aku keluar sebentar," Raga akhirnya bersuara, hanya untuk itu.

Sonia membuka kelopak matanya yang hendak ia istirahatkan lagi setelah mendengar suara Raga yang berada diambang pintu.

Khanza ikut menoleh, mendelik tajam pada Raga yang masih menerapkan silent treatment. "Mau kemana kamu Kak? Baru sampe juga,"

Raga menghela napas panjang, jika Bundanya tidak akan protes atas diamnya ia melupakan Khanza, perempuan itu lebih menyukai semuanya di luapkan dibandingkan harus diam dalam waktu yang lama.

"Temenin Geo sama Orland sebentar," ujarnya singkat.

Pintu kamar ditutup Raga setelahnya, rasa kesal Khanza tambah memuncak Bunda Sonia hanya tertawa kecil melihatnya, ia juga belum punya energi untuk protes atas sikap diamnya Raga.

"Dia pikir dia doang yang harus di mengerti? Dibandingkan harus dipendam, kenapa nggak luapin aja? Keren lo begitu Kak?" omel Khanza, seolah-olah Raga ada didepannya.

Sonia hanya geleng-geleng kepala mendengarnya, ia mengambil satu tangan Khanza untuk digenggam. "Maafin anak Bunda ya, kamu kayaknya harus extra sabar hadapin sifat Raga yang lebih banyak diam dibandingkan ngungkapin apa yang sebenarnya dia rasain."

RAGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang