Raga Artajiwa. Seperti namanya, Raga. Dia Raga untuk Keisha, dan juga Raga untuk Khanza.
Bagi Keisha Lavanya, Raga tidak hanya sekedar sahabat tapi juga tempat berpulang dari segala gundah yang terjadi, Raga tempatnya berkeluh-kesah dari segelintir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁🍁
Khanza mencopot gorden pink kamarnya serta mengganti seprei dengan yang baru dan membawa yang kotor untuk dicuci. Hal yang paling menyebalkan ketika hari weekend perempuan itu harus mengerjakan banyak hal yang tertunda di hari-hari sebelumnya.
Karena belum mempunyai budget yang cukup untuk membeli mesin cuci ia mesti mencuci bajunya dengan tangan secara langsung, harus merasakan setiap harinya bagaimana kulit tangannya mengelupas.
Ditengah-tengah pekerjaannya Raga menelpon, Khanza mengangkat dengan tangan basah. Menaruh handphonenya di rak tempat alat-alat mandinya.
"Kenapa Kak? Aku lagi nyuci ini."
"Gitu banget ngomongnya Za, lagi pms kamu ya?"
"Aku lagi nyuci bukan lagi pms! Paling kesel kalau lagi nyuci seprei sama gorden, huh!"
"Haha, aku bantuin ya,"
"Enggak ah ribet!"
"Yaudah, aku mau liat muka kamu angkat dulu."
Khanza melirik handphonenya yang berubah menjadi panggilan video, menggeleng cepat. "Enggak mau, aku lagi kucel jelek tau."
"Mau liat yang jelek," celetuk Raga.
Khanza mengerucutkan bibirnya "Ih nyebelin, yaudah bentar tangan aku basah!"
"Hati-hati sayang,"
Handphone Khanza menampilkan wajah Raga yang tengah berdiri dengan latar belakang jendela rumah keluarga Ilano, Raga tersenyum kecil sambil melambai.
"Kamu lagi apa itu Kak?" tanya Khanza.
"Lagi--" Raga tampak ragu menjawabnya setelah menoleh kesamping.
"Jangan, jangan bilang!"
"Eh suara siapa itu Kak? Kamu nggak lagi nyimpen perempuan lain kan?" tuduh Khanza sembarang.
"Bukan, nanti aku jelasin. Kamu pasti laper habis nyuci baju, mau makan apa? Biar aku pesenin." ujar Raga, terkesan mengalihkan pembicaraan menurut Khanza.
"Kamu sengaja banget ya Kak?" Khanza memicingkan matanya.
"Khanza ..." tegur Raga.
Khanza mengerucutkan bibirnya, dia memang kerap Curug dengan hal-hal kecil. "Yaudah maaf ya Kak Raga,"