34

14 0 0
                                        

✨✨

Suara pintu terbuka menampilkan sosok laki-laki berpakaian khusus. Ia adalah dokter yang menangani pasien.

"Keluarga pasien atas nama Keyra Varhani?"

Mereka segera menghampiri terutama kedua orang tua Key. "Iya dok kami orang tuanya"

"Bagaimana keadaan Keyra dok?"

"Keadaannya cukup-"

"Cukup apa dok?"

"Lebih baik bapak ibu ikut keruangan saya untuk membicarakan lebih lanjut"

Orang tua Key mengikuti interupsi dokter tersebut. Ira masih dibuat kebingungan bagaimana keadaan Key. Ia juga tidak tinggal diam dengan kejadian ini.

Drrrt

Drrt

Mengangkat telpon. "Hallo?"

"Hai Ra" sapa seseorang di seberang.

"Gimana ada perkembangan?"

Panjang lebar mereka berbicara lewat telpon. Situasi seakan mendukung dirinya karena sepi tidak ada satu orang pun.

"Kabarin kalo ada perkembangan meski sekecil apapun itu"

"Gue ngerti, tapi?"

"Tapi apa?"

"Ada yang gak beres sama kejadian temen lo"

"I see"

"Bye Ra"

"Bye"

Ekhem

Ia menoleh ke sumber suara ternyata Jay dan Vano berada tidak jauh darinya. "Serius banget Ra, lagi ngomong sama siapa?" Jay.

"Oh, itu"

Ceklek

Pintu ruangan operasi terbuka menampakkan seorang gadis tengah terbaring lemah dengan alat medis yang berada di tubuhnya.

"Key" Vano segera mendekat berada di sampingnya.

"Key kamu denger aku kan?"

"Key" Ira memegang tangan.

"Maaf pasien harus segera dibawa ke ruangan" suster.

Mereka semua minggir untuk mengikuti Key menuju ruangan rawat inapnya. Ruangan VVIP adalah tujuannya.

Memang Key bukan dari keluarga sederhana biasa saja. Ia sama seperti lainnya berasal dari keluarga yang berkecukupan.

Sayangnya mereka tidak bisa menjenguk Key begitu saja. Harus bergantian demi ketenangan pasien.

Mereka semua mondar-mandir di depan pintu ruangan. Menunggu seseorang yang sedari tadi belum kembali dari ruangan dokter.

"Kalian-"

"Assalamualaikum Om Tante" Vano dan Jay.

"Waalaikumsalam" mereka bergantian salim kepada kedua orang tua Key.

Saat Vano menjadi orang terakhir yang salim. Cukup membuat kedua orang tua Key mengerutkan kening. Terutama mamanya langsung mengeluarkan pertanyaan.

"Tunggu! Baju kamu-" Mamanya menunjuk.

"Iya Tante" Vano menganggukkan kepala.

"D-darah?"

Ia mengulang gerakan pertamanya yaitu mengangguk lalu tersenyum kecut. "Darah itu..."

"Itu darah anak saya, maksud kamu?" membuka mulut tidak percaya.

"Maaf sebelumnya bukan berniat ikut campur, tapi-" Jay ikut bersuara untuk meluruskan kejadian sebenarnya.

"Tapi apa?" Kali ini papa Key menyauti.

"Tapi kejadian sebenarnya itu seperti ini...." Jay menjelaskan panjang lebar kejadian yang dialami Key.

Mereka hanya menganggukkan kepala. "Kami sebenarnya sudah tahu! Jadi benar seperti itu kejadiannya?" Papa Key.

Jay mengangguk mantap lalu menatap Vano dan Ira bergantian.

"Polisi juga sedang menyelidiki kasus ini. Kalian jangan takut! Pasti akan ketemu pelakunya." Papa.

"Kami yang seharusnya terima kasih kepada kalian sudah membawa Key ke rumah sakit dengan segera" Mama Key.

"Maaf Tante, di balik itu ada orang yang paling berjuang di sini" Ira menunduk.

"Ira maksud kamu berjuang?"

"Vano, Tante dia orang yang menyelamatkan nyawa Key. Dia orang pertama yang berjuang membawa Key ke rumah sakit di saat tidak ada kendaraan lewat. Tante tahu dia membawa Key dengan berlari"

"Jadi kamu yang namanya Vano?"

Vano mengangguk. "Iya"

"Oh! Ternyata dia orang yang selalu di ceritakan oleh Key" Papa Key tersenyum.

"Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya. Jika tidak mungkin saat ini Key" Mama menangis.

"Sama-sama Tante Om. Sudah seharusnya sebagai manusia kita harus saling tolong menolong"

"Kamu memang anak baik"

"Kalian pasti mau jenguk Key kan?"

"Maaf, apa boleh kami menjenguk Key?" Ira.

"Tentu boleh!"

"Tadi katanya itu-"

"Memang harus bergantian karena keadaan Key-" Mama Key kembali menangis.

Ke dua orang tuanya menjenguk terlebih dahulu. Kemudian di susul mereka bergantian masuk.

Kali ini giliran Ira setelah Jay. Sedikit berdebar tak kala dirinya melangkah lebih dekat ke gadis yang sedang berbaring saat ini.

Ia meneteskan air mata. "Assalamualaikum Key"

Ira perlahan menyentuh tangan Key. Rasanya ia tidak tahan berdiri di depan Key yang tubuhnya terpasang banyak alat medis itu.

"Kamu pasti denger aku kan? Meski kamu masih setia menutup mata. Aku yakin kamu orang kuat Key"

"Apa kamu tahu? Ini semua jelas salahku, jika kamu bangun pasti mengomel karena aku menyalahkan diriku. Cukup membuat marah memang" terkekeh di akhir kalimat.

Ia berbicara sendiri dengan suara yang pelan. "Key aku janji bakal cari siapa yang udah berani ngelakuin ini. Mungkin mereka semua mengira aku sekarang adalah aku yang dulu. Padahal sebaliknya, jika pelakunya tertangkap aku bakal bawa dia kesini"

"Key aku pergi dulu ya! Kamu harus sembuh karena kamu adalah orang hebat"

Ia bangkit dari duduknya kemudian segera keluar ruangan. Jelas dirinya sangat di tunggu oleh orang selanjutnya yang akan masuk ruangan.

Dia adalah Vano, kenapa memilih terakhir menjenguk. Alasannya harus ganti baju dulu biar bersih sebelum menjenguk. Terdengar memang fakta tapi tidak tahu sebenarnya juga.

"Van"

Ira memanggil namanya, Vano hanya melewati Ira diam tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Sikapnya terulang kembali seperti sebelumnya. Tidak ada yang tahu apa di pikirannya.

"Apa dia ngira kalo-" ucapan batinnya tepotong karena Jay memanggil.

"Ra!"




Next Part?

Semoga kondisi Key baik.

Ira sekarang bukan Ira yang dulu.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Vano?

Gimana perasaan kalian baca part kali ini?

Jangan lupa vote, comment, dan share sebanyak-banyaknya agar author semakin semangat nulis.

Thank you buat kalian semua guys.

Happy Reading 🌵



ABHIPRAYA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang