✨✨
Joko meluruh tersungkur keras memegang perutnya yang berdarah, ia terbatuk mengeluarkan darah. Ira melototkan mata tak percaya dengan air mata terus meluruh. "Joko" teriaknya menghampiri Joko tergeletak di tanah. Walaupun Joko menatap berisyarat menjauh pergilah.
Gauravi menoleh dengan tatapan tak percaya. Menatap sekeliling menyadari pasukan keduanya tumbang tinggalah mereka berlima. Zac menatap nanar apa yang telah ia lakukan terhadap Joko orang yang tak bersalah.
"Joko" Gauravi berlari menghampiri. Ternyata Zac sudah tersulut emosi terlebih dulu seperti bukan dirinya lagi bersamaan melihat Ira terdiam kaku berdiri tangannya hampir mendekat menolong Joko lalu Zac dengan sengaja mendorong menjauhkan Ira tapi malah terperosok ke sungai hampir terjatuh.
"Aaaaah"
"Tolong" Ira bergelantungan mengeratkan tangan ke tepian jalan.
Zac berdiam diri tidak berkutik sama sekali. Gauravi segera menghampiri Ira untuk menolongnya. "Ra lo pegangan tangan gue"
Ira berhasil memegang tangan Gauravi. Dirinya menggeleng mengenyahkan pikiran akan terjatuh. Ia akhirnya bisa di naik kembali atas bantuan Gauravi tapi apa Alex memukul Gauravi keras hingga tersungkur mengenaskan tidak sadarkan diri.
"Bagaimana, dua pahlawan kesianganmu?"
Ira terdiam membisu menangis kakinya meluruh ke bawah. Posisinya sekarang berlutut di depan Alex dan Zac. Interupsi pemuda membuatnya sadar. "Bawa dia" Alex menyuruh bawahannya yang baru datang.
Mereka mengangguk membawa seorang gadis dengan paksaan. Ira memberontak hingga suara peluru melesat.
Dor
"Aaahh" menjerit menutup kedua telinga dengan tangannya. Ia langsung menurut di bawa kemanapun dengan syarat temannya di tolong serta di bebaskan.
✨✨
Pertama kali yang Ira lihat setelah tidak sadarkan diri akibat sakit kepala hebat hingga membuatnya pingsan adalah ruangan gelap tanpa cahaya, bau pengap menyebar, minim pencahayaan, paling mirisnya dia pingsan dalam keadaan duduk dengan tangan serta kaki terikat.
Sakit kepala kembali menyerang, penglihatan kabur ia mencoba menggelengkan kepala guna menetralkan. Baru sadar jika ia sendirian di dalam ruangan ini. Tampaknya sebuah bangunan gedung tidak terpakai terlihat jelas dari tembok yang sudah tidak ada cat.
Ia kali ini berpikir tidak boleh menangis lagi. Meyakinkan diri pasti temannya sudah di tolong. Cara pertama yang harus ia lakukan adalah membuka ikatan tali lalu kabur dari tempat mengerikan.
Hampir beberapa menit terlewati ia masih saja tidak bisa membuka ikatan tali. Suara langkah kaki terdengar mendekat, ia menatap ke seluruh penjuru arah. Walaupun pencahayaan minim ia sadar rupanya tempat ini tidak biasa karena ada cctv juga alat pendeteksi orang asing atau jika ia kabur sudah pasti ketahuan.
Pintu terbuka menampilkan pemuda tampan siapa lagi jika bukan Alex. Dia menghampiri Ira layaknya sebuah mangsa dengan tangan memainkan pisau memutar. Psikopat satu kata di pikiran Ira.
"Are you awake Ira?" Menunduk mensejajarkan dirinya dengan Ira.
"Lepasin saya!" Membentak dengan nafas memburu.
"Ulangi!" Menajamkan mata elang.
Tersenyum miring Ira mengulangi perkataan yang sama tapi di ikuti kalimat. "Apa salah saya?"
"Bodoh! Pura-pura rupanya?" Mengangkat pisau menyentuh dagu Ira membuatnya meringis.
"Saya sungguh tidak tahu apa perkaranya hingga kalian berbuat keji seperti ini" ia berbicara terlalu keras hingga ujung pisau itu sedikit menggores dagunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABHIPRAYA [END]
Teen Fiction-cerita pertama aku- ✨✨✨ Bagaimana jika tidak seorangpun mengerti kita. Apa dunia terlalu kejam atau kita yang terlalu berlebihan dalam menghadapinya. Ananda Irana Negara duduk di bangku sma dengan kata keterpaksaan dari orang tuanya. Hidup nya te...
![ABHIPRAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/330944687-64-k124949.jpg)