"Kenapa kamu suka?" Vano menatap intens lawan bicaranya.
"Ha? Aku"
"Hm"
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum-" Key reflek mengucapkan.
1 detik
2 detik
3 detik
"Hahhahaha ngakak lo kira ngeliat setan" Jay ngakak brutal bagaimana tidak temannya sungguh lebih tidak waras dibandingkan nya.
"Ekhm sungguh tidak peka" Ana menambahkan dengan geleng geleng.
"Ekhm yang ngomong juga tuh" Jay menatap ke arah lain saat Ana menoleh penuh pertanyaan ke arah nya.
"Jadi biar gue jelasin Ana. Warung ini langganan geng bebas apalagi di setiap menunya menggugah selera. Contohnya Ira suka pedes dower, Key pedes munafik, Vano pedes kalem datar" jay mengubah topik menjelaskan menu makanan.
"O"
"Hanya O gak tuh" Key menanggapi dengan kekehan mengejek.
✨✨
Flashback On
Ira sempat mematung bagaimana bisa sebuah kejutan tak terduga terjadi di depan umum. Apalagi ini terjadi pada sekolah tidak biasa.
Ia mulai memikirkan hal yang tidak tidak. Seperti roda berputar kembali dalam ingatannya. Mulai dari hidup nya yang dulu, orang tua nya, awal masuk sekolah dimana dia pasrah begitu saja.
Diri yang selalu tertutup, berani bicara hanya harapan belaka dibelakang. Keberaniaan hanya ilusi untuk berani terbuka.
Pikirannya berkecamuk lagi dan lagi. Rasanya kembali seperti semula terjatuh lagi dan lagi. Tidak dirinya tidak boleh jatuh ke lubang yang sama.
Ingat bahwa keluarganya kembali membaik. Pertemanan nya, hidupnya, semuanya. Dia sudah berdamai dengan diri nya.
Apalagi suara interupsi menyadarkan dirinya bahwa dia sudah berada di ruang bk. Tidak hanya dirinya tapi korban lainnya beserta orang tua nya.
Flashback off
Nak
Hiks
Hiks
Suara itu menyadarkan nya.
"Ananda Irana apa benar yang dilakukan Larissa itu benar nak?" tanya seorang guru perempuan.
"Jawab nak tidak perlu takut demi kebenaran dan keadilan. Bapak ibu yang sudah hadir kami ucapkan terimakasih. Satu hal bahwa hal ini jangan sampai terjadi atau ada di sekolah. Maaf jika pihak kami kurang mengawasi sehingga terjadi hal yang tidak di inginkan" lanjut celotehnya panjang lebar.
"Nak Ira tolong jawab jujur pertanyaan terakhir kali ini, kami juga ingin menegakkan keadilan kepada anak kami" ucap salah seorang wali murid.
"I-iya bu benar" Ira mengakui memang benar pernyataan mereka.
"Baik pertanyaan terakhir kepada Ira sudah selesai jadi kita putuskan saja" ucap seorang kepala penanganan sekolah. Selang beberapa menit panjang lebar pertimbangan.
"Ananda Larissa tidak bisa kita keluarkan demi kebaikan bersama tapi di skors selama 1 bulan"
"Apakah anda yakin jika dia tidak berbuat kembali" bukan mereka yang menjawab tapi seorang paruh bayah yang masih terlihat muda. Dia adalah mama Irana.
"M-mama ma" Ira langsung memeluk sang ibu dengan kuat dan mencoba tidak menangis di depan mereka.
"Ya sayang putri kecil mama tenang ya biar mama tindak lanjuti kejadian ini kalau bisa bawa ke jalur lebih jauh" mama Irana tidak habis pikir sekolah yang ia pilih dengan baik malah sebaliknya membuat kecewa.
"Saya kesini juga membawa pengacara keluarga saya. Maaf saya mungkin terlihat grusah grusuh tapi ini sudah kami pikirkan secara baik dan harfiah" lanjutnya dengan seorang pengacara di belakang nya.
Banyak orang tua yang menyetujui tindakannya. Orang tua mana yang rela anak nya di rundung dalam dunia sekolah.
Setelah panjang lebar mereka menyelesaikan dan tidak terima akan hasil menegaskan bahwa Larissa tidak bisa dikeluarkan karena melewati beberapa banyak pertimbangan. Ya memang tidak adil bukan? Tapi ya sudahlah karena mereka yang tau.
Setelah keputusan ditetapkan mereka semua keluar ruangan tak terkecuali Irana. Saat menghampiri pintu mereka di kejutkan oleh kedatangan pemuda. Terlihat dari raut wajah yang kecewa dan tidak terima.
"Astaga kuaget aku gusti" bukan Irana atau Mamanya tapi ibu guru bahasa jawa yang berprofesi juga sebagai bk.
"Ngapain sampean di depan pintu gini bikin kaget awas minggir. Oh ngge saya pamit duluan ke depan" lanjutnya tersenyum berpamitan yang di angguki oleh semua, kecuali Gauravi yang ditatap tajam sang empu.
"Nak Ravi kenapa di depan pintu ada urusan di sini?"
"Ekhm ehm maaf tante sebenarnya saya mau bicara tentang-" dia adalah Gauravi Nara.
"Tenang semua sudah di atasi ya tahu sendiri anak itu tidak di keluarkan. Terpenting semua selesai dan putri mama baik baik saja. Kalau dia berulah bilang ya biar mama sambal geprek di rumah" ucapnya juga menghibur namun sedikit sarkas
"I-iya ma makasih ya Ira berusaha sebaik mungkin" setelah itu mama nya pamit pergi pulang karena ada urusan lain.
"Kak Ravi mau bicara apa?" Ira merasa bingung melihat wajah Ravi melamun.
"Ekhm hm?" sanggah nya mentralkan raut wajahnya.
"Jadi mau bicara atau kalau gak ada aku mau ke-" terpotong oleh Gauravi yang tiba tiba menarik tangannya menjauh.
- Kasih pesan buat Larissa yok?
- Menurut kalian gimana konsekuensinya?
- Satu kata buat Gauravi?
- Saran buat Ananda Irana?
- Dia bisa lebih baik atau kembali ke masa lalu?
Pantengin terus cerita selanjutnya guys!!!
Jangan lupa follow, vote,comment gak maksa ;)
Happy Reading
KAMU SEDANG MEMBACA
ABHIPRAYA [END]
Fiksi Remaja-cerita pertama aku- ✨✨✨ Bagaimana jika tidak seorangpun mengerti kita. Apa dunia terlalu kejam atau kita yang terlalu berlebihan dalam menghadapinya. Ananda Irana Negara duduk di bangku sma dengan kata keterpaksaan dari orang tuanya. Hidup nya te...
![ABHIPRAYA [END]](https://img.wattpad.com/cover/330944687-64-k124949.jpg)