part 12

1.7K 82 1
                                        


HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
-
-
-
-
-


Amora duduk di kursi yang sudah disetiap kan menunggu kedatangan dasha. Akhirnya yang di tunggu pun datang dengan wajah gugupnya.

"Sejak kapan seekor harimau suka semut" ucap amora membuka berkas yang sudah tersedia di meja nya.

"Maaf jika ketidak nyamanan nya tapi sumpah gue juga baru tau sifat nya" ucap dasha dengan gelagapan.

"Panggil"pinta amora dingin sambil membolak balikkan berkas nya dengan pihak datarnya.

"Baik"balas dasha dan lansung keluar untuk memanggil wanita yang sempat ditemui di depan gedung.

Selang beberapa lama datang lah dasha dengan wanita tersebut dibelakangnya.

"Nama"tanya amora memandang kearah wanita tersebut dengan dingin.

"Rita dartilana"jawab cepet dasha takut kena amuk.

Amora pun mengangguk-anggukkan kepala nya l"Apa hak lo bocah duduk disana"ucap tita dengan menatap sinis amora.

"Gaji anda berapa nona"tanya amora formal bangun dari tempat duduknya.

"15 juga sebulan kenapa menjadi OB hanya akan mendapat gaji 2 juta" sombong rita.

"Gaji tidak sepadan dengan kerjaan" ejek amora membuat rita menatap dengan tatapan tajam.

"Bocah seperti mu hanya pantas menjadi gelandang" ucap rita.

Kesalahan itu membuat dasha murka sehingga menampar rita sehingga tertoleh kebelakang merasakan nyeri di bagian pipinya.

"Jaga ucapan lo sialan" ucap dasha dengan tatapan tajam. "Anda membela bocah sialan itu" tanya Rita dengan tatapan tidak percaya memegang pipinya yang mulai memerah.

Amora yang jengah melihat itu lansung menjambak rambut rita hingga mendongak. "Maksud kau apa sialan"pekik rita menahan tangan amora.

"Maksud saya mau bunuh anda nona" balas amora enteng mengeluarkan belati disaku roknya.

"Lo mau ngapain lepasin gue sialan"teriak rita memberontak.

Tanpa aba-aba rita merasakan pipi nya yang mengalir darah segar. Belati yang amora pegang dapat menembus diarea perutnya dengan cepat. Nafas cekatan mengarah rasa sakit yang menjalar diarea perutnya. Amora mendorong rita hingga terjatuh bahkan sampai mengenai meja.

Amora pun menghampiri rita dan berjongkok didepan rita "Kata-kata terakhir" tanya amora dingin.

"Gue dapat melaporkan mu kepolisian dan kau siapa berani melukai ku" ucap rita memegang di daerah perutnya yang pernah terkena dengan belati.

"Bagaimana jika kau mati duluan sebelum ngelapor" tanya amora dingin. "Amora queenara albertina smits yang punya perusahaan ini" lanjut dasha.

" Siap untuk mati nona, lumayan juga organ anda saya jual untuk menggaji kariawan lainnya" terang amora membuat sang empun menggeleng.

"Psikopat" teriak rita menggelegar di ruangan tersebut.

"Emang" balas amora "Bunuh" lanjut sang empun sehingga dasha yang berada disana tersenyum senang.

Amza (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang