part 21

1.3K 65 1
                                        


HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
-
-
-
-
-

Kenzi lansung memeluk tubuh jesi mencoba menenangkan dirinya membuat sang empun mengelus punggung sang empun.

"Ini bagaimana cerita ken, bisa-bisanya adik kalian ketabrak" tanya arthur membuat kenzo terdiam.

"Ini semua salah kenzi yang bodoh" ucap kenzi membuat arthur menghela nafas berat.

"Hey jangan gitu it's okay boy jangan merusak mental mu" peringat jesi membuat kenzi terdiam.

"Stop dulu maksudnya adik?" gumam alvano membuat yang lain memandang kearah alvano.

"Sebenarnya amora kembaran gue" jawab kenzo membuat alfareza, angkasa, dan alvano terkejut.

"Mereka memang kembar namun tidak seiras jadi jangan heran" ucap adriane membuat yang hanya cengo dengan jawaban yang mereka dapatkan.


Suara pintu terbuka dan memperlihatkan seorang dokter yang baru saja keluar dari sana dan diikuti seorang suster.

"Dengan keluarga pasien" tanya dokter tersebut. "Ya dengan saya sendiri"jawab athur dan jesi bersamaan.

"Pasien saat ini dalam keadaan di kendali obat bius jadi mohon bersabar kami juga akan memindahkan nya keruang VVIP, kami sudah menjalankan operasi dengan baik sehingga pasien dapat terselamatkan" jelas sang dokter ramah.

"Tapi anak saya baik-baik saja kan" tanya Jesi sedikit gemeteran takut-takut jika sang putri yang tidak bangun dari obat bius nya.

"Ketentuan nya akan bangun 30 menit nyonya jika lewat dari itu pasien di nyata kritis" jelas sang dokternya.


Mereka pun masuk dan melihat tubuh amora yang terbaring dengan mata yang memejam damai dengan perban yang melilit di bagian keningnya.

"Ra" sapa lirih kenzi melihat tubuh amora dimana kepala yang diperban membuat hatinya berdesir hebat.

Kenzi sesekali mencium tangan yang diinfus milik amora. Mereka menatap kenzi iba ternyata orang receh seperti bisa bersedih bahkan membuat semua yang ada diruangan perhatian.

"Bang ken semanget ya" ucap aldara menepuk pundak kenzo sehingga sang empun tersenyum tipis.

Mereka menyadari jika ada pergerakan di bagian tangan amora membuat semuanya menatap kearah sang empun. Amora mencoba menetralkan cahaya yang mulai menerobos masuk ke matanya, rasa sakit di kepalanya seakan berdenyut memberi reaksi sakit namun masih bisa ditahan.

"Ra" panggil Kenzi senang karna amora sudah siuman.


Amira mulai menatap sekitar tatapan nya tertuju pada semua orang yang ada disana sehingga mengerutkan keningnya seakan bingung dengan semua orang yang ada disana, begitu juga dengan yang lain menatap amora was-was karna dokter tidak pernah menjelaskan jika amora yang amnesia.

"Kalian siapa, dan gue dimana?" Tanya amora dengan dingin.

Bagaikan tersambar petir semua menatap tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan amora. Kenzi yang mendengar itu menggeleng ribut bahkan air matanya yang saat ini tidak terbendung lagi.

Amza (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang