HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
-
-
-
-
-
Alfareza masih tidak bergeming dengan kelakuan gadis di depan matanya yang mengelus belati yang iya punya. Seberapa tajamnya alfareza sudah tau karna dia sudah terlalu seringan memakainya.
Amora menatap tajam kearah alfareza sehingga sang empun meneguk air liurnya dengan susah payah. "Drama lo, gue lelah nunggu" pinta amora dengan tatapan sinis nya membuat alfareza melangkah kearah sang gadis.
"Harus seperti ini ya" tanya alfareza canggung sehingga amora mengangguk santai membuat alfareza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"kenapa kau takut tuan, berani melakukan tidak berani merasakan, berani berbuat berani menanggung" ucap dingin amora.
"Selama ini kau cuma bisa menjadi pelaku bukan menjadi korban bukan, maka dari ini kau harus merasakan apa yang di rasakan korban" lanjut amora.
"Kau rela menyakiti ku" tanya alfareza sehingga berhasil mendarat kan pandangan nya.
"Kau saja tanpa bekas kasihan menyakiti seseorang, lantas bagaimana dengan orang itu yang akan membalas mu" tanya balik amora menodongkan belati tersebut tepat di depan wajah alfareza.
Benar dengan ucapan gadis tersebut sekali seseorang yang iya bunuh mencoba untuk meminta belas kasihnya, namun apa yang iya dapatkan melainkan lansung membunuh.
"Duduk lah sayang, sepertinya jika aku mengukir nya di wajah akan semakin menarik" ucap amora mulai bermain dengan isi otaknya.
Alfareza duduk di sofa namun tersadar dengan ucapan amora sehingga mendongak menatap tidak terima. "Mana bisa seperti itu, gue hanya mengukir mu di perut" batah alfareza tidak terima.
Amora meletakkan jari telunjuk nya di bibir sang empun sehingga terdiam, "mau gue cium heh" ancam amora membuat alfareza mengangguk antusias.
Amora yang melihat itu menjitak kasar dahi alfareza sehingga sang empun memejamkan matanya merasakan sentuhan kasar milik gadis tersebut. "Giliran enak nya lo ngangguk tolol" umpat kesal amora, "angkat baju lo" pinta amora dengan kesal membuat alfareza terkekeh dengan ucapan dari amora.
Pikir nya dia yang nawar dia yang kesal sendiri, "harus di angkat ya" tanya alfareza.
Amora menarik nafas berat. "Jangan membuatku mengeluarkan kata-kata kasar" peringat amora membuat alfareza mengangkat kaus putihnya setengah sehingga tercetak jelas perut sixpack nya.
Amora menatap alfareza dengan tatapan seakan mau membunuh orang namun alfareza tetap teguh dengan pendirian nya. "Kalau gue bunuh lo saat ini siapa yang akan tau" ucap amora santai.
"Disini cuma lo dan kedua orang tua gue yang keluar masuk kamar gue, jadi sudah jelas siapa pelakunya diluar juga sudah banyak cctv pengawasan" terang alfareza jujur membuat amora berdeham.
"Jadi, sini gue mau hukum lo" pinta amora mencondongkan tubuhnya tepat di depan alfareza.
Sedangkan alfareza menutup matanya karna amora sedikit memajukan tubuhnya membuat alfareza memejamkan matanya erat.
Amora yang memandang kearah alfareza yang memejamkan matanya tersenyum membuat ide jahil muncul dibenaknya.
"Kenapa kau tutup mata" tanya amora membuat alfareza membuka matanya lalu menggeleng kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza (END)
Romance[SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR TERLEBIH DAHULU OKAY] Amora quenara Albertina smist Nama yang cantik bukan seperti wajahnya "cantik" tapi beda dengan seperti sifatnya iblis. Amora/Queen mempunyai sifat dingin, datar, bodo amat, cuek...
