Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🥀
"Jika Tuhan melukiskan takdir pada sebuah kertas, pastilah dengan mudah dihapus atau dirombak. Namun berbeda ketika Tuhan melukiskan takdir pada genggaman-Nya. Tidak akan ada yang bisa mengubah atau bahkan melihatnya."
- Fay Azura -
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Past > 17 years old
"LEPAS! Lepasin tangan gue!"
"Oh, udah berani berontak?"
"Mau apa kalian! Tadi gue udah kasih uangnya! Kenapa kalian masih ngincar gue?!" Remaja lelaki berseragam putih-biru itu terus mencoba berontak pada cekalan segerombolan remaja lain.
Tubuhnya terus ditarik atau diseret saat jam pulang sekolah. Walau para murid yang masih berlalu-lalang di sekitaran melihat, tapi sama sekali tidak ada yang melerai atau mungkin membantu. Sebab semua orang tidak mau ikut terlibat dalam kasus semacam itu. Bisa-bisa mereka yang terancam.
Ia merutuk benci dalam hati karena betapa tega orang-orang itu seperti buta dan tidak berprikemanusiaan, atau seperti menutup mata jika melihat sebuah perundungan.
"Mau sampai kapan kalian terus palak gue?!" Sentaknya sekali lagi sembari menangis. Ia terpaksa mengikuti jalan para murid nakal itu sampai meninggalkan pelataran sekolah, lalu berjalan dengan langkah tersendat-sendat antara enggan dan takut.
"Ya sampai kita puas, lah! Secara lo anak Adji Pramudya!" Jawab salah satunya yang menjambak rambut lelaki itu dengan paksa sampai-sampai ia meringis kesakitan.
"Le-lepas... gue mohon lepas... nanti- bakal gue kasih..." tubuhnya seakan lemas tak berdaya. Apalagi jika harus melawan orang-orang yang lebih tinggi darinya. Ya, dibanding yang lain tubuhnya cukup kecil.
"BASI! Kasih juga nggak seberapa lo! Tadi aja berani ngumpet di dekat ruang guru, kan?! Brengsek emang! Sengaja cari perlindungan!" Ditambah lagi, bagian belakang punggungnya ditendang oleh lelaki yang baru saja mengumpat padanya.
Ia hanya bisa berserah diri kepada Tuhan, terlebih tubuhnya sudah diserang dan meninggalkan rasa sakit yang hanya bisa ia tahan lewat tangisan.
🥀🥀🥀
Langkah kaki gadis SMA itu semakin dipercepat. Karena hal tersebut, napasnya jadi terengah-engah. Bukan, bukan karena telat atau hal semacamnya. Melainkan merasa sungguh tak sabar ingin segera sampai di salah satu ruang terbesar di sekolahnya. Ruang serbaguna. Itupun sepulang sekolah, bukan sebelum masuk sekolah.