🖤 Chapter 48

1K 72 114
                                        

بسم الله الر حمن الر حيم

Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel

Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world

🖤🖤🖤

"ADUH, ini gimana, ya? Aku belum terbiasa kerja pakai laptop

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"ADUH, ini gimana, ya? Aku belum terbiasa kerja pakai laptop. Padahal udah lebih dari 2 minggu. Tapi kerjanya tambah lelet."

"Mas pasti bisa. Aku yakin! Atau enggak... nanti minta ajarin aja ke Fay. Kan, mereka mau ke sini."

Kedua orang tua Fay terus berceletuk pada ruang tamu kala Wildan, yang merasa sedikit kesulitan mengoperasikan benda elektronik portable tersebut. Ya, semua pekerjaan memantau, membuat data, menganalisa laba, harus dia lakukan di laptop, yang diberikan oleh besannya, Adji Pramudya.

"Ck, memang berapa lama, sih? Ini udah mau Magrib. Masih belum sampai juga?" Tanya Wildan sedikit menggerutu. Dia mengenakan kacamata minus yang baru dibeli. Nampak pula dahinya sedikit menyureng. Tengah berbincang dengan istrinya.

"Sabar, sebentar lagi juga sampai. Tadi kata Fay mereka lagi ke café dulu. Suaminya mau ambil agenda kerja," jawab Ayu sambil terkekeh kecil melihat wajah serius suaminya. Juga bergelayut manja di lengan Wildan.

Namun, gerakan pria itu terhenti. Pandangannya beralih pada Ayu. "Sayang, apa menurut kamu... Fay senang sama pernikahan itu?"

Ayu mengulas senyuman. Ia bisa lihat gurat sendu karena rasa cemas terhadap putrinya. "Senang itu relatif. Nggak bisa kita langsung beranggapan senang melakukan sesuatu. Di mana semua hal pasti ada konsekuensinya. Dan untuk dia yang menikahi Raka juga tergantung. Apalagi katanya... Raka mulai berubah."

Embusan napas berat dikerahkan Wildan. "Tapi tetap aja aku khawatir sama Fay. Gara-gara aku nggak punya uang, dia jadi rela menikah sama Raka yang katanya orang bermasalah. Kenapa aku jadi berkaca lihat kamu yang mau menikah sama aku? Padahal kamu tahu, aku punya temperamen yang cukup susah dikendalikan," penuturan dengan suara lirih itu berhasil membangkitkan rasa haru dalam hati Ayu.

"Mas..." Ayu memeluk lengan suaminya dari samping. "Temperamen kamu terjadi karena ada masalah aja. Di waktu-waktu tertentu. Kebaikan kamu lebih banyak bagi aku. Dari awal kita menikah, kita udah saling siap menghadapi konsekuensi apapun ke depannya. Dan lihatlah, udah puluhan tahun kita lewati. Kita bisa merawat bahtera pernikahan selama itu."

Ini yang paling membuat Wildan sedari dulu jatuh hati pada Ayu. Tutur katanya begitu lembut, bisa berpikir matang dan bersikap tenang dalam segala situasi. Terkadang ia berpikir, mengapa Tuhan memberikannya istri seperti dia? Padahal dia sadar diri. Tidak punya harta lebih. Rumah yang kini disinggahi pun milik peninggalan orang tua Ayu. Terlebih, di masa-masa suram dirinya bermain judi, Ayu masih sudi untuk menyadarkan dirinya.

Enemy in Your Area (#1) [FINISHED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang