🖤 Chapter 20

1.1K 56 113
                                        

بسم الله الر حمن الر حيم

Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel

Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world

🖤🖤🖤

KENDARAAN beroda empat itu sudah terpakir pada area yang tersedia di sebuah café, dengan papan nama The White House

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

KENDARAAN beroda empat itu sudah terpakir pada area yang tersedia di sebuah café, dengan papan nama The White House. Tak jauh berbeda dengan namanya, dinding bangunan tersebut juga dominan berwarna putih dengan aksen gradasi abu tipis agar tak terlihat polos.

Lelaki itu keluar dari mobil, dan berjalan dengan langkah tergesa-gesa setelah mendapat panggilan tadi. Dan sialnya, bulir keringat sedari tadi masih menimbun di beberapa titik wajahnya. Tentu saja penyebabnya karena seblak level pedas.

Kring!

Suara bel berbunyi jika pintu kayu yang berwarna tosca dibuka. Sesaat masuk café, Raka mengedarkan pandangan ke segala arah, untuk bisa menemukan di manakah seseorang yang hendak ia temui sedang menunggu.

 Sesaat masuk café, Raka mengedarkan pandangan ke segala arah, untuk bisa menemukan di manakah seseorang yang hendak ia temui sedang menunggu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lalu, tatapan matanya terhenti pada satu sudut sebelah kanan meja bartender. Seorang pria berjas hitam tengah duduk dan menatap layar laptop dengan serius.

"Pak Indra udah datang sekitar 15 menit yang lalu. Dari mana aja, lo? Kok, keringetan?" Tanya seorang karyawan lelaki berusia 25 tahun, yang datang dari arah toilet hendak masuk kembali ke meja bartender.

"Iya, tadi gue ditelpon. Gue ke ruang owner dulu, mau ambil tabung gambar. Eh tapi, Bang, dia udah dikasih wejangan?"

Pria yang bernama Farhan itu terkekeh dan menjawab, "Udah, lo lihat sendiri bentar lagi juga habis. Dia sekalian numpang wifi. Padahal orang kaya, tapi katanya, mumpung ada yang gratis kenapa nggak dimanfaatkan? Emang aneh."

Raka menggeleng-geleng heran mendengar kalimat itu. Ia menepuk-nepuk bahu Farhan, lalu berjalan ke arah sebuah ruang yang mana berada di belakang meja bartender, tertutup oleh sekat PVC berwarna kayu.

Enemy in Your Area (#1) [FINISHED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang