Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SUASANA malam kian terasa mencekam dalam sebuah rumah mewah berdinding keseluruhan cream, dengan suasana indoor yang terasa hangat karena furniture dominan bermaterial kayu finishing.
Kumpulan suara bergejolak emosi dalam percakapan dua pria terdengar menggema hingga ke lantai atas, pada telinga seorang remaja lelaki berusia 18 tahun yang baru saja keluar dari kamar. Merasa penasaran, perlahan ia menyusuri anak tangga demi bisa mendekat ke sumber suara.
Saat berada di sana, manik matanya menangkap perdebatan antara papa dengan saudara lelakinya. Mereka berwajah merah karena marah, urat-urat leher menyembul dengan jelas pertanda seluruh tenaga dikerahkan. Lelaki itu pun kembali mencuri-curi pendengaran setelah berhenti di ujung tangga.
“MAKSUD PAPA APA?! Kenapa tiba-tiba nyuruh Raka menikah?! Apalagi sama perempuan yang bukan Raka mau! Raka menolak!” Raka - kakaknya terus berteriak ngamuk kepada Adji - papanya.
“Ini demi kebaikan kamu. Agar kamu bisa belajar bertanggung jawab dan lebih disiplin. Papa sudah menemukan wanita yang cocok untuk kriteria itu,” tandas Adji sambil mengangkat kedua tangan sedada sebagai isyarat penjelasan.
“NGGAK MAU!”
“RAKA! Kapan Papa banyak menuntut kepada kamu? Apa selama ini kamu berbakti kepada Papa? Bahkan Papa hanya minta maaf pun kamu nggak mau! Bukankah itu nggak adil jika kamu selalu menggunakan harta Papa?” Raka sempat tertegun sepersekian detik. Beberapa kali mengedip dalam diam.
“Pokoknya kamu harus mau menikah dengan dia!” sambung Adji yang tidak mendapat respons sebelumnya.
“Tapi Raka masih kuliah, Pa... lagian juga Raka udah punya pacar! Mana bisa ditinggalin begitu aja!” sentak Raka kembali.
“Nggak bisa! Wanita pilihan Papa lebih baik dari yang namanya Karin, dia wanita yang sangat mandiri, kuat dan tangguh! Bisa mengajari kamu banyak hal tentang arti kehidupan.”
Raka berdecak kesal. Ekspresi gusar bersamaan dengan acakan rambut frustasi dilakukan olehnya. “Emangnya siapa orang itu?! Dari tadi Papa cuman melebih-lebihkan dia! Jangan bilang wanita tua atau jangan-jangan wanita rendah yang Papa pilih kayak dia!”
“CUKUP!" Adji mengacungkan jari telunjuk, dan diarahkan pada putra pertamanya. "Asal kamu tahu, dia seusia dengan kamu. Dan bahkan dia berkuliah di kampus yang sama denganmu, satu jurusan denganmu.” Amarah Adji semakin menjadi, terlebih, putranya mulai bicara merendahkan istrinya.