🖤 Chapter 26

3.1K 267 106
                                        

بسم الله الر حمن الر حيم

Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel

Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world

🖤🖤🖤

Day - 4

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Day - 4

JUM'AT pagi ini, Fay berkacak pinggang dan berekspresi bingung ketika mendapat sebuah tugas negara. Atau lebih tepatnya setelah mendapat pinta dari suaminya, yang menginginkan hal nyeleneh sebagai reward, setelah kemarin malam dirinya membuatkan kopi dalgona...

"Apa? Kamu serius? Kamu suruh aku nyuci baju? Pakai tangan?!"

"Iya! Udah nggak usah protes! Lo sendiri yang bilang reward apapun selain pisah bakal lo turutin." Fay menghela napas panjang. Kedua matanya memicing, menatap Raka heran. Bagaimana bisa lelaki itu memiliki ide demikian!

"Ya-- aku, sih, nggak masalah, nyuci pakai tangan. Apalagi nyuci baju suami yang aku anggap bentuk ketaatan kalau mengerjakan ikhlas. Tapi ini ada mesin cuci," ungkap Fay kembali yang kini melihat Raka fokus mengecap sisa kopi dalgona yang telah habis segelas.

"Kenapa? Lo nggak ikhlas? Katanya tadi mau taat. Apa enggak begini deh, gue bakal tambah rakaat Tahajud sama Duha jadi empat rakaat," tawar Raka yang menyunggingkan sudut bibirnya.

"Tapi... ini sama-- ehm, itunya?" Melihat gelagat aneh Fay, dan lagi wanita itu nampak malu-malu, tak berani menatapnya, Raka bertanya, "Apa? Sama itunya apaan?"

"Underwear."

Hening seketika...

Mereka berdua sempat terdiam beberapa saat. Tentu, wajahnya penuh dengan ketegangan beriringan dengan keresahan yang mulai melanda hati masing-masing. Manik mata mereka pun bergetar karena terjebak dalam situasi itu. Awkward moment!

Meskipun sudah merangkap sebagai suami-istri, entah mengapa hal itu masih begitu tabu untuk mereka bahas jika masih saling berperang macam sekarang ini. Hingga akhirnya, Raka mencoba untuk melawan. Hey, sudah terlanjur dia meminta hal seperti itu! Sudah tidak bisa ditarik lagi! Di mana letak harga dirinya sebagai seorang pria?

"Ck, bodo amat! Sok aja cuciin juga sekalian, sana! Toh, Bibi juga biasa aja nyuci sama jemurnya."

Ya, begitulah kilas balik malam kemarin. Fay menggaruk kepala meski tak gatal. Ia sempat meminta tolong pada Bibi untuk mencarikan bak yang kiranya bisa digunakan mencuci manual. Sampai-sampai Bibi bertanya dengan gundah, "Non, serius mau cuci manual? Kenapa begitu? Biar sama Bibi aja, ya. Nggak enak sama Ibu dan Bapak nanti kalau ngelihat Non nyuci baju."

Enemy in Your Area (#1) [FINISHED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang