🖤 Chapter 32

3.2K 269 114
                                        

بسم الله الر حمن الر حيم

Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel

Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world

🖤🖤🖤

Day - 8

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Day - 8

SEBUAH mimpi pada masa lalu terkait perpecahan keluarganya berhasil membuat mata wanita itu terbuka. Fay mencoba melakukan pernapasan seirama tatkala merasakan hal menyesakkan pada dadanya. Terlebih, terpampang begitu jelas pada layar proyektor memorinya menyetel reka adegan ibunya, yang selalu berusaha keras bersabar dan berbelas kasih pada ayahnya meskipun dibentak, dikasari, dan dikhianati soal perkara uang.

Fay pun tak merasa bulir air pada kedua sisi matanya mengalir terus-menerus mengingat hal itu. Pernah sewaktu-waktu, datang sebuah berita yang mana Fay beserta ibunya begitu terkejut, saat ada beberapa orang menagih utang belasan juta.

Padahal mereka sama sekali tidak pernah meminjam. Jikalau ingin membeli sesuatu pun, harus lebih dulu menabung! Tidak boleh menyicil atau lebih parah meminjam.

Usut punya usut, utang itu dihasilkan oleh ayahnya yang menginginkan motor miliknya diperbaiki seluruh mesin yang sudah tua. Dan sisanya... sudah pasti untuk berjudi. Tidak. Bukan sekali saja hal itu terjadi. Berulang kali semenjak Fay mendapat pekerjaan.

Di samping memikirkan utilitas rumah, Fay juga harus memikirkan bagaimana nasib beasiswanya. Bagaimana nasib nilai-nilainya yang mau tak mau harus ia coba pertahankan. Tak mungkin lagi rasanya ia berkuliah tanpa beasiswa. Meski harus berkorban waktu tidur, meski harus berkorban kesehatan, Fay tak merasa sejauh ini dirinya bisa bertahan. 2 tahun lamanya.

Sekitar 3 bulan setelah dirinya berhasil melunasi utang, datanglah kabar mengenaskan dari adiknya yang mengalami kecelakaan. Dan sebenarnya... bisa saja Fay menolak untuk menikahi Raka jika tidak ada kata lelah, atau iba pada orang tuanya terutama Ibu. Namun, mengingat perkataan ibunya soal jihad di jalan Allah, Fay begitu terhipnotis dan ingin mencobanya sendiri. Sehingga, dengan nekat dan dalam kondisi keterpojokan, ia bersedia.

Manik mata Fay menelipir ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu sebentar lagi memasuki pukul 3 dini hari. Ia kemudian menoleh pada samping kirinya, melihat Raka yang belum terbangun dari tidurnya.

Perlahan, Fay memiringkan tubuh untuk bisa menghadap pada lelaki itu. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia terus memandangi rupa sang suami yang secara kebetulan kepalanya juga menoleh pada dirinya. Dan karena hal itu, tanpa sadar Fay tersenyum kecil.

Entah dorongan dari mana, ia mengangkat tangan kanannya, diarahkan menuju tangan Raka yang nampak terbuka di atas bantal. Tanpa ada rasa sungkan, ia mulai meraba jari-jemari lelaki itu. Lama kelamaan, menggenggam lembut tangan itu.

Enemy in Your Area (#1) [FINISHED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang