🖤 Chapter 12

2.9K 228 111
                                        

بسم الله الر حمن الر حيم

Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel

Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world

🖤🖤🖤

WANITA itu duduk termenung di atas kasur seraya menatap lurus ke arah luar jendela

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

WANITA itu duduk termenung di atas kasur seraya menatap lurus ke arah luar jendela. Tanpa adanya ekspresi. Dengan hati yang entah bagaimana dibilangnya, berserah diri mungkin.

Sebab... hari ini adalah hari di mana ia akan dilamar. Ya, lamaran mendadak dari keluarga seorang Adji Pramudya sang pengusaha property, yang diadakan Sabtu pagi.

Dalam benak, Fay terus berpikir. Apakah yang ia lakukan ini sudah benar adanya? Masa iya hanya demi kebutuhan ekonomi sesaat sehingga harus mengorbankan perasaannya? Ah, tidak. Fay segera menepis pikiran itu. Ia terus mencoba untuk menegakkan niat, bahwa menikah adalah hal yang baik. Bahwa menikah adalah ibadah yang paling banyak mendapatkan pahala.

Walau Fay sudah belajar ilmu pra-nikah, mungkin memang benar kata orang, punya ilmu harus bisa direalisasikan di kehidupan nyata. Dan Fay juga berpikir bahwa ini adalah petunjuk dari Allah, ini adalah kesempatan di mana ia bisa menggunakan ilmunya.

Ceklek!

Pintu kamar dibuka oleh Ayu. Dari sudut pandangnya, ia merasa miris dengan putrinya. Rela menerima tawaran menikah, hanya demi membantu perekonomian. Sungguh, rasa bersalah pun terus memuncak di hati meskipun Fay selalu bilang tak masalah atau itu adalah keinginannya sendiri.

Ayu terus melangkah mendekati Fay yang masih betah berdiam diri di tempatnya. Duduk di samping putrinya, lalu mengulurkan tangan dan menyentuh bahu kiri Fay. "Fay, kamu baik-baik aja?" tanyanya berhasil membuat lamunan Fay buyar. Lantas, wanita itu menoleh ke arah ibunya.

"Fay baik-baik aja, Bu. Kenapa?" senyuman tulus pun diberikan di bibirnya. Dan hal itu, berhasil memberikan denyutan perih di hati Ayu.

"Fay, kamu nggak perlu melakukan ini demi keluarga kita. Biarlah kita bantu untuk membayar biaya operasi Adit." Fay semakin melebarkan senyuman dengan menampakan giginya, berharap agar ibunya yang bisa terlihat cemas itu menjadi tenang.

"Bu, Fay udah nggak bisa mundur lagi. Ini udah jadi jalan hidup Fay, pilihan Fay. Ibu tenang aja. Jangan khawatir. Dan lagi, Ibu tahu sendiri Fay udah bilang kalau Fay mendapat amanah dari mereka, agar bisa membantu Raka menjadi lelaki yang lebih baik lagi." Ayu hanya bisa tersenyum getir.

"Dan... Fay masih ingat perkataan Ibu, kalau kita sebagai sesama muslim harus bisa saling membantu agar kembali ke jalan yang benar. Mengingatkan mana yang baik dan buruk, lagi pula Fay juga yakin, Insya Allah dia bisa berubah. Satu hal lagi..."

Enemy in Your Area (#1) [FINISHED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang