Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"FAY, mau kerjain kapan tugas drainase-nya? Bisa-bisanya kita sekelompok sama si Raka," keluhan Nia - salah satu mahasiswi Teknik Sipil membuat Raka tersulut.
"Apa, lo! Nyindir gue? Kalau nggak mau sekelompok sama gue ya udah kerjain sendiri, sana! Lagian kerjain di Autocad, gampang, sendiri-sendiri juga bisa di rumah, beberapa hari juga jadi."
"Gampang, lo bilang? Heh, kutu kupret! Ini sistem saluran perumahan, lho, bukan saluran wc biasa! Butuh kerja sama, lo bagian ini dia bagian itu, harus rinci sampai ke semisal dibuat perumnya persoalan biaya juga dihitung! Ntar presentasi! Belum kita harus cari referensinya." Piyan, mahasiswa berkacamata dan berambut cepak juga ikut menimpali.
"Emang sombong! Fay aja yang IPK-nya paling gede pertama nggak pernah sombong, masih ada langit di atas langit!"
"Kalau nggak mau dibalas makanya jangan mancing emosi! Apaan lo pada, jelekkin gue?!"
Terus saja mereka berdebat karena perkara kerja kelompok yang mulai merembet ke mana-mana. Fay sendiri yang memegang kendali hanya bisa menghela napas panjang. Apalagi jika berhubungan dengan tingkat kesombongan Raka yang membuat para mahasiswa lain paling mewanti-wanti untuk bisa bekerja sama dengannya.
"Bisa tolong berhenti? Bisa dengerin saya?" Pertanyaan melerai itu tidak diindahkan, dan masih terus berlanjut layaknya babak kedua.
"MAU SAYA JADIIN SAMSAK?!"
Akhirnya, satu teriakan galak Fay berhasil memisahkan mereka. Bahkan semua mahasiswa yang belum pulang pada sore ini spontan menoleh mendengarnya.
"Fa-Fay, janganlah. Maaf ya, hehe..." Nia memegang lengan Fay juga mengelusnya.
"Nia, udah, jangan mancing si Raka, udah tahu keras kepalanya gimana."
"Bacot." Fay berdecak mendengar hal songong yang begitu kekanakan. Matanya yang sempat melirik tajam pada lelaki itu, kini berubah haluan menatap Nia.
"Nia, lebih baik nanti berempat kerjain barengnya di zoom aja. Nanti dibagi per-blok, untuk presentasinya juga sesuai sama apa yang didapat. Dan untuk perhitungan biaya kita pakai referensi dari ayahnya Raka aja, pokoknya dia harus mau minta rincian sekiranya butuh berapa untuk pembangunan saluran biasanya," tutur Fay yang membuat Piyan dan Nia terkekeh.
Sementara Raka hanya memutar bola mata malas.
"Ya udah, kalau begitu kita pulang. Bubar." Menyusul mahasiswa lain, Piyan dan Nia meninggalkan kelas.