Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to the Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Day - 6
"WAaqīmul-wazna bil-qisti wa lā tukhsirul-mīzān..." lelaki yang baru saja mengucap ayat tersebut, seketika mengatupkan bibirnya.
"Ayo! Kenapa berhenti ngaji Subuhnya?" Mendapat pertanyaan itu, dia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak dan menggertakkan giginya.
"Lo bisa nggak, ngejauh dari gue?" Tanyanya dengan suara penuh penekanan.
"Ngejauh gimana?"
"Ngapain diem di depan gue begitu? Pake segala natap, risih!"
Fay terkekeh mendengar jawaban suaminya. Meski begitu, tak ayal membuat ia menjauh seperti yang Raka inginkan. Pasalnya, Fay terus duduk berhadapan persis, mendeprok dan tak bisa berhenti menatap dengan senyuman pada Raka.
"Ini gue jadi nggak bisa fokus, ah!" Protes lelaki itu sekali lagi.
"Nggak bisa fokus karena aku lihatin? Yang aku tahu... orang yang dilihatin begini tuh, salting. Kamu juga gitu, ya?"
"Kalau gitu gue nggak mau baca lagi," tantang Raka yang langsung menutup Al-Qur'an sembari menyurengkan dahi, dan memberanikan diri menatap istrinya.
Gila. Sudah gila ia merasa tak bisa fokus hanya dengan tatapan seorang wanita yang begitu ia benci. Apalagi masih setia memandanganya dengan wajah yang ditopang tangan kanannya.
"Ya nggak begitu, dong. Sekali-kali aku mau tahu tajwid panjang pendek yang kamu baca itu benar atau enggak. Jarang, kan? Nanti kalau nggak baca jadi nggak bisa dapet reward, nggak bisa ngerjain aku."
Wah, benar sekali! Ia tak bisa membuat Fay kelelahan dalam memberikannya reward. Begitulah kiranya jawaban yang hendak Raka ucapkan. Tapi... aneh, tubuhnya seakan kaku dan tak bisa digerakkan mendengar gertakan itu, lidahnya pun terasa kelu untuk menjawab. Terlebih, senyum creepy yang ditunjukkan Fay benar-benar membuatnya canggung.
"Ya-- besok aja, lah! Ini suratnya..."
"Kenapa sama surat Ar-Rahman?"
Kenapa-kenapa, ndasmu! Enak bener nih cewek kalau ngomong! Sentak Raka dalam hati, ya, sebab tak bisa berucap kembali.
Mau tak mau, Raka berusaha untuk terus melanjutkan bacaan surat Ar-Rahman. Pasti banyak yang tahu mengapa demikian. Ya, surat Ar-Rahman memang menjadi salah satu surat iconic yang banyak diberikan sebagai mahar dalam pernikahan. Sang mempelai wanita meminta untuk mempelai pria membacakan hapalan surat Ar-Rahman pada saat prosesi akad.