Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Day - 14
"KAMU serius? Mau menerima Fay?" Tanya Adji sumringah ketika putra yang saat ini berjalan bersamanya sepulang dari masjid pada dini hari menuju parkiran, tiba-tiba bicara demikian.
Raka tersenyum tipis. "Insya Allah. Raka mau coba terima Fay. Nggak ada salahnya."
Lelaki itu menghirup beberapa kali demi bisa merasakan oksigen pagi yang sungguh baik untuk paru-parunya. "Sekarang Raka sadar, semua itu takdir dari Allah. Mungkin, dengan jalan begini Allah mau memperbaiki kualitas hidup Raka. Lewat seseorang yang Dia kirimkan untuk menyadari segala perbuatan buruk Raka."
Adji melengkungkan bibirnya. Ia juga merangkul bahu Raka. Kesenangan beriringan dengan kebanggaan pun timbul menghiasi hatinya. "Sejak kapan kamu jadi berpikir bijak begitu, hm?"
Sungguh, momen yang sedari dulu Raka idamkan bisa berdua dengan papanya menuju masjid kini bisa terealisasikan. Dia berpikir bahwa jika saja tak ada semua peristiwa itu, entah sampai kapan dia terus tenggelam dalam kemungkaran dan kebencian yang tak berkesudahan.
Walau begitu, jujur saja, ada rasa sedikit hampa tidak seperti biasanya selalu bertengkar dengan Saka. Apalagi jika setiap pagi remaja yang kini berada di Norwegia itu selalu membangunkannya dengan tarikan urat dan tenaga.
Mentang-mentang bertubuh lebih besar, bertindak tidak sopan padanya. Ya... dia juga suka berteriak nyaring di hadapan Saka. Mungkin hal itu menjadi salah satu cara untuk Saka membalas dendam.
"Tapi, Pa, untuk menerima Mama dan Saka... Raka masih butuh waktu," sambung Raka membuat Adji menghentikan langkah. Tak ayal dengan Raka yang juga berhenti.
"Ya, Papa dan mereka nggak masalah. Cuma... satu pesan Papa, tetap bersikap baik dan sopan. Apalagi sama Saka. Kamu selalu aja ribut dengan dia."
"Ribut juga nggak sampai tinju-tinjuan."
"Ya Saka kasihan sama kamu, lah! Nanti kebanting."
Ingin sekali rasanya Raka menggigit lengan papanya karena gemas yang saat ini tertawa tanpa adanya rasa bersalah bicara begitu.