Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PANDANGAN lelaki ber-outer biru dongker itu tak bisa merasa rileks, terus menajam kala menatap kediaman mewah pada sebuah cluster. Giginya bergemeletuk. Napas yang dikeluarkan pun berembus kasar. Namun, kekesalan itu beriringan dengan rasa pedih saat melihat wanita tercintanya telah terbaring koma.
"Raka, ayo masuk. Supir Papa udah bilang ke satpamnya," ajak Adji bernada mantap. Memegang bahu kanan putranya.
"Ya. Ayo." Baru saja Raka hendak melangkah, lengannya ditahan oleh Adji.
"Tapi sebelum itu Papa mau bilang sesuatu," ungkap Adji. "Kamu harus bisa terlihat dewasa dalam menyikapi sesuatu di depan orang-orang yang udah mempermainkan kamu. Jangan tersulut emosi sampai teriak marah seperti biasa, ingat!"
Raka berdeham sejenak. "Tapi... kemarin malam Papa-,"
"Apa? Kemarin malam Papa kenapa?" Potong Adji dengan cepat, membuat Raka mengulum bibir
Padahal dia mau berkata, Papa semalam teriak marah! Bahkan di lorong rumah sakit pun tak segan berteriak! Tapi melihat wajah serius pria itu, ia jadi urungkan niat.
"Ehm... kemarin malam-- Papa benar. Papa benar soal perkataan yang dibilang Pak Wildan juga benar..."
Dahi Adji mengerut bingung. Dia juga menggeleng-geleng karenanya. "Aneh banget kamu ini. Ayo masuk."
Dua lelaki itu berjalan masuk setelah sampai perjalanan dari rumah sakit ke pelataran Karin pagi ini. Seperti kata Adji semalam, wanita itu harus menanggung akibat yang dia perbuat.