Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
WAKTU resepsi telah tiba seusai proses akad dilaksanakan. Semua tamu undangan yang datang, dipersilakan mengambil hidangan yang telah disediakan. Di samping itu, para pengantin tampak duduk rapi pada bangku pelaminan. Dengan mata yang sama-sama menatap datar, pada gerombolan manusia yang berlalu-lalang.
Sempat terjadi kecanggungan yang menyelimuti keduanya. Namun tak berlangsung lama karena Fay mencoba untuk bertanya, “Raka, aku mau tanya. Tadi kamu kenaa nangis?”
Mendengar pertanyaan itu, Raka berdecak malas dan menjawab tanpa mau menoleh sama sekali, “Bisa nggak sih, lo jangan ungkit hal itu? Udah cukup lo bikin gue badmood hari ini.”
Fay hanya menghela napas panjang. Lalu kembali menyandarkan punggung pada bantalan kursi, dan menatap lurus ke depan. Otaknya hanya tertuju pada nama Allah yang mana ia berusaha mengoneksi pikiran baik, bahwa ada hikmah di balik semua ujian.
Ya, pernikahan ini termasuk pada ujian kehidupan.
“Heh, satu hal lagi, gue kasih tahu sama lo. Jangan sampai anak kampus tahu soal pernikahan ini. Gue udah bilang sama Papa buat privat pernikahan ini. Dan lagi, cincin pernikahan nggak boleh dipakai pas kuliah. Hanya di rumah aja. Ngerti lo?”
Gertak Raka secara tiba-tiba, membuat Fay memalingkan wajah dan menelengkan kepala ke arah Raka yang duduk di samping kanannya, dengan satu alis yang menukik. "Ah... jadi kamu mau buat perjanjian sama aku?"
Kali ini Raka berani menengok pada Fay. Lelaki itu mencoba ingin menantang kembali tatapan yang sempat oleng saat menatap wanita berpenampilan cantik di sampingnya ini.
"Ya, itu syarat dari gue. Awas aja kalau tiba-tiba lo nyebarin ke kampus," jawab Raka bersedekap dada, menyilangkan satu kaki yang ia topang pada kaki lain layaknya seorang bos.
Bukan Fay namanya jika takut akan gertakan ala-ala Raka, yang sudah menjadi makanan setiap saat di kampus. Sebab ia sendiri sudah berbincang dengan Adji beberapa hari lalu menjelang pernikahan.
Dan Fay sendiri yang bilang tak masalah, akan mengikuti dulu alur yang Raka inginkan. Ia ingin melihat sejauh mana Raka bisa bertahan dengannya. Meskipun kala itu Adji cemas pada Fay, namun wanita itu terus meyakinkannya bahwa ia bisa, ada Allah yang membantu, ada jalur langit yang dilewati.