Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Day - 13
PRIA paruh baya itu telah berdiri di hadapan putranya. Dengan tarikan napas, tangan kanannya mengetuk pintu yang ia yakin betul, bahwa sang pemilik ruangan tidak akan membukanya.
Sudah menunggu beberapa menit, Adji memilih membuka pintunya secara langsung. Dan rupanya tak terkunci sama sekali.
Jujur saja, dari semalam, ia juga merasa resah dan khawatir pada Raka. Namun, dalam keadaan demikian, lebih baik ia tahan lebih dulu karena bisa-bisa Raka malah makin tersulut.
Setelah dia masuk dan melewati lemari... Adji tertegun. Kedua matanya membola tatkala melihat kamar putranya nampak begitu bersepah atau berantakan di segala sisi.
Kasur dengan sprei yang terlepas, bantal guling yang juga berceceran di lantai. Pada area belajar pun semua buku-buku dan peralatan tulis atau gambarnya juga bertebaran di lantai.
Dan, pandangannya juga tertuju pada sosok lelaki yang nampak meringkuk di atas sajadah. Juga menyandar pada dinding. Menenggelamkan wajah pada kedua lututnya yang ditekuk.
"Raka..." panggilnya yang sudah pasti tak diindahkan.
Pria berpakaian koko pada dini hari itu melangkah mendekati Raka, yang ia yakini juga baru selesai melaksanakan salat Tahajud. Sebab juga masih berbalut pakaian ibadah.
Adji menghela napas panjang setelah duduk di sebelah Raka. Ia juga ikut menyandarkan punggung pada dinding. Dan setelahnya, mengulurkan tangan kanan untuk bisa merangkul bahu putranya.
"Raka, kenapa kamar kamu begitu berantakan? Kamu ngamuk semalam?"
"Nggak lucu," Raka menjawab masih dalam posisi awal.
Adji tersenyum hambar. "Bisa kamu ceritakan kejadian semalam? Kamu ngusir Fay?"
Perlahan, Raka mendongakkan kepala. Wajah yang nampak kuyu dengan raut sendu itu akhirnya berani menatap papanya.
"Puas? Apa Papa udah puas sama kondisi Raka sekarang? Apa Papa merasa senang melihat kondisi Raka sekarang?" ujarnya dengan nada lemah. Atau lebih tepatnya pasrah akan keadaan.