Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Day - 12
SENYUM manis nampak terukir di wajahnya. Berada dalam posisi merebahkan diri di kasur, ia merasakan sebuah usapan lembut di kepala yang memberikan kesenangan tersendiri ketika ia mendapatkannya.
Dari arah jendela kamar yang terbuka, menampakkan langit malam pada pukul setengah 8. Embusan anginnya pun menyelinap masuk, dan membuat dua orang wanita yang berada di sana bisa merasakan hawa sejuknya.
"Karin, kenapa jendelanya dibuka? Kamu, kan, lagi sakit. Tutup, ya," Syahla berkata, masih setia mengusap kepala putrinya.
"Nanti aja. Karin masih suka udara malam. Lagian udah cukup mendingan. Mama sama Papa berangkat aja ke acara itu. Pulangnya jam berapa kira-kira?" Tanya Karin seraya menurunkan selimutnya sampai sebatas perut.
"Sekitar jam 10 malam. Ya udah, kalau begitu kamu istirahat. Jangan kebanyakan main hape. Oh ya, minggu depan Mama sama Papa mau ke luar kota."
Karin menaikkan alis kanannya. "Berapa lama?"
"Sekitar dua mingguan. Kalau kamu merasa kesepian ajaklah Raka ke sini. Menemani kamu. Paham?"
Rasa berat mulai hinggap di dadanya. Ia hanya bisa memberikan anggukan kepala pasrah. Setelah saling berpisah, Syahla keluar dari kamar Karin yang dindingnya bercat warna pink, tak ketinggalan banyak pernak-pernik berwarna senada. Atau mungkin bercampur dengan hitam yang jika dikombinasikan jadi Blackpink, girlband kesukaannya, sekaligus role modelfashion-nya.
Selang beberapa menit berlalu, Karin bangkit dari kasur. Ia berjalan keluar menuju balkon untuk bisa menelak pada area depan rumahnya. Ingin memastikan kedua orang tuanya benar-benar sudah berlalu pergi.
Ting!
Suara notifikasi pesan dari ponsel membuat Karin masuk kembali dan mengambil alat komunikasi miliknya, yang berada di meja nakas. Ketika melihat chat tersebut, garis bibir Karin melengkung sangat. Ia tak bisa menahannya untuk terus mengembang.
...
Kating : Karin, aku udah di depan rumah kamu. Aku tadi lihat ada mobil keluar dari sana. Orang tua kamu?
Anda : Ya! Mereka udah pergi. Sebentar, aku siap-siap dulu ya. Kamu mau, kan, tungguin aku?