🖤 Chapter 9

2.9K 225 109
                                        

بسم الله الر حمن الر حيم

Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel

Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world

🖤🖤🖤

HATI Fay kini berada di pertengahan antara tenang atau bimbang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HATI Fay kini berada di pertengahan antara tenang atau bimbang. Tenang sebab sudah bisa membayar operasi adiknya, tetapi bimbang karena ia telah menyetujui tawaran seorang Adji Pramudya. Fay terus berpikiran akan hal itu sepanjang perjalanan di ojol saat ini.

Ia terus terpikirkan soal bagaimana reaksi Raka besok jika dia tahu persoalan ini. Apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka berdua adalah saingan.

Akhirnya ia sampai di rumah. Fay lekas membayar jasa tukang ojek yang kemudian pergi meninggalkan dirinya. Ia memutar tubuh agar bisa berjalan ke dalam rumah. Namun, ia dibuat bingung saat melihat Ayu dari jarak beberapa meter nampak menutup pintu rumah.

Fay beranggapan bahwa ibunya hendak pergi mencari pinjaman. Dengan cepat, ia berjalan mendekat kepada ibunya.

“Bu, Ibu mau ke mana?” tanya Fay yang sudah berada di belakang Ayu.

“Ibu mau cari pinjaman, pokoknya malam ini Adit harus dioperasi,” jawabnya tegas. Hal itu membuat Fay tersenyum kecut. Bisa terasa betapa teguh pendirian sang ibu dalam mencari dana.

“Bu, Ibu nggak usah mikirin hal itu. Udah Fay tangani.”

Ayu terbingung sesaat mendengar ucapan dengan suara tenang dari putrinya. “Tangani? Maksud kamu apa? Kamu dapat pinjaman?”

Fay menitah sopan ibunya untuk masuk kembali ke dalam rumah agar pembicaraan bisa lebih tenang. Pintu ditutup, dan mereka melangkah menuju sofa ruang tamu. Ibu dan anak itu duduk berdampingan, tubuh mereka menyerong dan saling berhadapan.

Namun, belum sempat bicara, Fay terperanjat kaget ketika mendengar pintu rumah dibuka dengan kasar. Sama halnya dengan Ayu. Mata mereka membuka sempurna karena melihat seorang lelaki paruh baya yang dadanya naik-turun, juga napas yang terengah-engah memandang mereka secara bergantian.

“M-Mas... Wildan?” Ayu tergugu melihat suaminya tiba-tiba datang.

Wildan berjalan mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Fay yang sedari awal melihat kedatangan ayahnya, malah menaikkan kadar emosi karena teringat lelaki itu sama sekali tidak menjawab semua panggilan, maupun membalas semua pesan entah darinya atau ibunya.

Enemy in Your Area (#1) [FINISHED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang