Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"BAIKLAH, sudah diputuskan bahwa pernikahan akan diadakan dua minggu lagi. Anda tenang saja, Pak Wildan. Akan saya siapkan semuanya. Mulai dari tempat yang saya pilih, yakni di hotel, dan soal segala sesuatu yang lain berikatan dengan pernikahan," jelas Adji yang melebarkan senyuman.
"Tentu saja saya akan bantu, saya merasa tak enak jika begitu," sambung Wildan sembari mengelus dagu.
"Soal pakaian pengatin, biar para wanita yang memilih. Bu Ayu juga pastinya harus ikut dong," ajakan Linda disetujui calon besannya.
"Pastinya, saya juga senang bisa ikut memilih, tapi Fay dan Raka juga punya hak memilih pakaian mana yang akan mereka pakai."
Terus saja dua pasangan paruh baya itu saling bertukar sudut pandang soalan pernikahan seperti apa, harus bagaimana, sampai-sampai terkesan mereka yang mengatur semuanya. Sementara yang akan melangsungkan pernikahan hanya bisa diam di pojokan seakan merasa terasingkan oleh para sepuh.
"Pak Wildan, sekarang biar saya antarkan Anda melihat-lihat tempat kerjanya."
Perkataan Adji membuat Wildan menaikkan kedua alisnya. "Lho? Sekarang?"
"Ya, mumpung akhir pekan. Mari, istri Anda juga boleh ikut," balas Adji menyalin jari-jemarinya sembari terus menatap lawan bicaranya.
Wildan mengangguk paham. Ia menoleh pada putrinya yang saat ini hanya duduk terus menunduk seraya memainkan ujung kerudungnya. Walau tak bisa melihat seperti apa ekspresi Fay saat ini, hawa kegetiran bisa dirasakan olehnya. Ia pun merasa tak enak hati serta tak habis pikir dengan Fay yang bisa-bisanya membawa kabar pernikahan itu dengan anak dari Pramudya.
"Fay, kamu... bisa tolong jenguk Adit? Pasti dia kesepian sekarang. Sekalian bilang perihal ini."
Fay pun mendongak, lalu tersenyum tipis seiring anggukan kepala diberikan.
Sementara Raka yang duduk persis di samping papanya, lantas bertanya, "Pa, terus Raka gimana?"
"Ah, lebih baik kamu sama Saka antarkan Fay ke rumah sakit. Ikut jenguk adiknya."
Mendengar hal itu, Saka yang semula menyandarkan punggung di sandaran sofa, langsung menarik diri dan menegakkan tubuhnya. "Iya, Pa. Saka mau," katanya yang secara sadar, mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya.
Mungkin bisa saja, tatapan itu diartikan oleh Saka sebagai tanda ketidaksukaan bahwa mereka akan pergi bersama. Membuang waktu!
Apalagi saat Raka berdecak setelahnya dengan dahi menyureng tipis. "Tapi, Pa, mobil cuman ada satu."