Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MALAM sesudah Isya, wanita itu meletakkan kembali gelas pada sebuah nampan, lalu menutupnya dengan tutup berwarna biru agar bagian dalamnya tidak terpapar debu.
Selepas menghilangkan dahaga di area makan, ia berjalan hendak kembali ke kamar tidur. Berhubung di rumah yang besar itu terdapat beberapa pelayan lelaki, dan berhubung ia memiliki adik ipar yang mana tetap tidak menjadi mahramnya meskipun sudah menikah dengan kakaknya, Fay terus mengenakan kerudung selama di dalam.
Belum sempat ia mendekati tangga, dari arah kanan, seseorang menyapanya dengan penuh kehangatan, "Fay, kamu dari mana?"
"Dari ruang makan, habis minum, Pa. Kenapa?" Jawab Fay sopan pada Adji sang mertua, yang membuat ia menghentikan langkah.
"Fay, bagaimana perasaan kamu setelah hari pertama menikah?"
Fay menarik garis bibirnya dan menjawab, "Fay baik, Alhamdulillah. Sejauh ini aman."
Pria paruh baya itu sempat terdiam beberapa detik, dengan napas yang seakan tertahan. Dilihatlah wanita muda yang telah merangkap sebagai menantunya, dengan tatapan penuh harap. "Asal kamu tahu, Fay, saat Papa pertama kali melihat kamu, Papa merasa kamu pantas dan cocok dengan Raka. Dan entah mengapa, muncul sebuah bayangan tatkala kamu dan dia bersanding."
Senyum getir tercetak pada bibir Fay. Andaikan Adji tahu, bahwa Raka selalu saja mencacinya. Apalagi dengan sebutan munafik. Sungguh, merasa geram sekali ia akan hal itu. Kendati demikian ia sadar, harus terus bisa bersikap lembut terhadap Raka, yang mana telah menjadi tujuan utamanya untuk bisa membantu lelaki itu berperilaku lebih baik. Meski entah seperti apa berat yang akan ia pikul.
Dalam hati pun mulai tertulis, mungkin Raka memang lelaki yang Allah pilihkan untuknya. Nama yang Allah sandingkan dengannya di Lauhul Mahfudz, untuk saling melengkapi. Walau ia belum bisa melihat hal apa yang ada pada dirinya untuk lelaki itu lengkapi.
"Pa, Fay kembali dulu ke kamar ya. Mau belajar," ungkap Fay yang tak tahu harus bicara apa lagi.
"Ya, silakan."
Wanita itu kembali melangkah menaiki anak tangga bergranit putih, yang kiranya berjumlah belasan hampir puluhan. Terus berjalan hingga terhenti pada depan kamar. Fay tak langsung masuk, namun menelak ke arah luar jendela yang tertempel pada dinding sebelah kiri.
Asing. Suasana pernikahan ini terasa begitu asing baginya. Tinggal bersama orang-orang yang sudah bersikap baik padanya pun, masih terasa asing. Sekiranya begitulah yang dikatakan sang ibu jika memasuki dunia pernikahan. Karena mau tak mau, kita harus memulai beradaptasi dengan lingkungan baru.