Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"LINDA, bagaimana keadaan mereka?"
"Baik, Mas, mereka baik," jawab Linda dari seberang telepon. "Tadi pagi aku yang penasaran ngintip dari balik pintu, mereka sarapan bareng. Tapi ya... aku lihat Fay masih canggung sama sikap Raka yang sekarang."
Adji terkekeh mendengar penjelasan istrinya. Sembari menelak layar laptop, sedari tadi menelpon istrinya yang ia pinta untuk memonitoring hubungan pasangan muda itu sesaat ditinggali olehnya.
"Ya, pastinya begitu. Aku bisa paham, Fay masih cukup bingung dengan perubahan sikap Raka yang tiba-tiba. Pasti dia juga bakal sedikit meminta waktu buat menerimanya setelah dikecewakan. Kalau begitu aku tutup ya," imbuh pria itu.
"Iya, Mas. Semangat kerjanya ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Panggilan telah diputus. Adji tersenyum simpul mendengar berita hangat tersebut.
Dia yang saat ini terduduk di singgasana ruang kerjanya gedung Pramudya's Group, mulai berpikir tentang hubungan putranya yang telah kandas.
"Ardana Suryatama..." gumamnya kemudian memanggil sekretaris lewat wireless calling.
Sekretaris lelaki berjas hitam dan berkacamata yang telah bekerja pada tuannya sekitar 15 tahun lamanya itu datang. Berdiri di hadapan Adji dan bertanya, "Ya, Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Gunawan, tolong kamu hubungi Ardan untuk bertemu saya," titah Adji seraya menopang dagu.
"Ehm... mohon maaf, Pak. Setahu saya, beliau dan istrinya saat ini berada di Tangerang. Mengurus project."
"Coba saja dulu. Hubungi sekretarisnya, sore ini saya mau bertemu dengannya."
Gunawan tersenyum tipis, lalu mengangguk dan sedikit membungkukkan badan. "Baik, Pak, kalau begitu saya permisi."
Adji mengangguk. Ia menyandarkan punggung pada kursi kerja tingginya. Mengembuskan napas lega akan masalah yang sedari dulu tiada reda. Tinggal sedikit lagi hal yang harus dibicarakan. Terlebih, mengenai video yang putranya berikan. Adji sendiri yang meminta. Dia sendiri sungguh terkejut saat mendengar semua yang Karin katakan. Juga tentu, hal yang terjadi di sana dengan pria lain membuat Adji mengelus dada akan tingkah anak muda zaman sekarang.