Fay Azura - wanita berhijab si ahli bela diri yang terkenal tegas itu dihadapkan dengan sebuah pilihan yang membuat dirinya semakin terpojok. Terlebih lagi menyangkut masalah keluarga yang keadaannya semakin memburuk. Demi dua masalah besar pada hid...
Jangan lupa membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel
Happy reading my Dreamers, and welcome to Fay's black world
.
.
.
"Aku memang bukan lelaki yang baik, aku memang bukan suami yang baik. Tapi ketahuilah, bahwa semua hal butuh waktu dan proses. Butuh pengorbanan untuk bisa menjadi seperti yang diharapkan. Namun, aku mohon... janganlah pisahkan aku dari wanita yang bisa membantuku mencapai semua itu."
~ Raka Adji Pramudya ~
🖤🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ya Allah, aku berdoa... hubunganku dan istriku bisa secepatnya pupus."
"Raka, aku mohon... tarik lagi ucapan kamu. Daripada kamu berdoa yang mengundang murka Allah, lebih baik kamu berdoa agar kita berdua bisa menjalani hubungan yang lebih baik lagi..."
"Mengundang murka Allah, lo bilang?"
"Ya, meminta untuk memisahkan hubungan yang telah dimulai secara baik-baik. Dan memisahkan hubungan halal yang sudah menggetarkan arsy ketika kamu mengucap ijab qabul kala itu, demi seorang yang tak halal bagimu."
"Lo pikir gue mau memulai hubungan begitu? Dari dulu lo tahu sendiri kalau gue cintanya sama Karin, bukan sama lo. Mikir!"
Diam...
Raka terdiam dalam ketegangan. Percakapannya pada waktu dini hari kala itu, langsung terngiang di benaknya. Denyutan pedih pada hatinya pun timbul begitu saja, bersamaan dengan genangan air yang kembali memburami pandangannya.
Tubuhnya membeku. Benar-benar tak bisa bergerak barang sedetik pun mendengar permintaan mertuanya.
Dia bertanya memastikan, "Ayah... bi-bilang apa?"
"Kurang jelas? Saya mau kamu pulangkan Fay pada saya. Ceraikan dia. Saya nggak mau anak saya terus menerus tersakiti entah itu fisik atau hatinya. Pegang janji saya yang akan membayar semua itu," balas Wildan penuh penekanan. Dengan suara bergetar menatap Raka hampir tak berkedip.
"Yah... Ayah bercanda, kan? Ayah jangan ngomong begitu..." peluh Raka mulai merengek. Merasakan kesesakkan yang begitu mencabik dadanya.
"Kamu pikir saya bercanda? Mana ada orang tua yang mau melihat anaknya menderita? Mana ada orang tua yang mau putrinya menikahi lelaki yang sama sekali tidak bisa menghargai atau menghormati? Bahkan apa yang tadi kamu bilang? Menyuapi? Kamu merawat pacar kamu padahal ada Fay di samping kamu? Bisa-bisanya kamu berbuat begitu? Bisanya-bisanya kamu-,"