Geisha terkejut saat sebuah tangan kekar menggantung didepannya. Ia mendongak menatap pemilik tangan kekar itu seketika matanya melebar begitu mendapati seorang cowok berwajah tegas nan tampan yang menjulurkan tangannya.
"Ayo gue bantu." Satu kalimat tiga kata itu sukses membuat Geisha mematung ditempat.
Antara percaya tidak percaya bahwa ada orang yang mau menjulurkan tangannya untuk membantunya tanpa rasa jijik sekalipun.
Geisha dengan ragu menerima uluran tangan cowok itu. Kakinya yang sakit membuat dirinya meringis pelan. Membuat cowok itu mengalihkan pandangannya kearah lutut Geisha yang terluka akibat gesekan aspal keras yang menyentuh permukaan lututnya yang tidak terbalut apapun.
Tanpa diduga-duga, cowok itu merunduk melihat lebih dekat luka di lutut Geisha yang terlihat cukup parah. Ia kembali menegakkan badannya seperti sebelumnya. Manik mata hitam pekat miliknya tak sengaja bertemu dengan manik coklat terang milik Geisha yang menatapnya tak berkedip.
Geisha benar-benar terkesima dengan perlakuan cowok didepannya ini. Tidak pernah disangka-sangka bahwa akan ada seseorang yang menolongnya kala dirinya membutuhkan bantuan seperti sekarang.
"Lo tunggu sini," kata cowok itu pergi begitu saja dari hadapan Geisha.
Geisha menatap cowok itu dengan kerutan di dahinya yang terlihat jelas. Selang satu menit cowok itu kembali menghampirinya seraya membawa satu kotak obat berwarna putih di bagian depannya terdapat logo palang merah yang tercetak sedemikian rupa.
"Duduk!" Titah cowok itu menyuruh Geisha duduk dipinggiran trotoar jalan.
Entah dorongan dari mana Geisha menuruti apa yang diucapkan cowok itu. Geisha duduk seraya menyselonjorkan kakinya kedepan.
Cowok berseragam sama persis seperti Geisha terlihat tengah sibuk dengan kotak obat dipangkuan nya. Setelah menemukan bahan yang ia butuhkan, cowok itu sedikit mencondongkan tubuhnya guna mengobati luka di lutut Geisha.
Dengan begitu cekatan dan telaten cowok itu mengobati luka di lutut Geisha. Geisha sesekali meringis pelan saat rasa perih dan ngilu terasa di bagian lututnya yang sedang diobati. Pandangan Geisha sama sekali tak teralihkan pada cowok yang tengah merunduk yang tengah serius mengobati lukanya.
"Tahan, ya, dikit lagi selesai," ucap cowok itu sedikit mendongakkan kepalanya menatap Geisha sebentar.
"I-iya," balas Geisha berusaha mati-matian menahan rasa gugupnya.
Beberapa menit pun berlalu yang rasanya begitu cepat.
"Selesai," ucap cowok itu tersenyum senang saat sudah memasangkan hansaplast bergambar animasi Doraemon dibagian luka Geisha.
"Makasih," ucap Geisha tersenyum kikuk dari balik maskernya.
Cowok itu mengangguk samar. Merapihkan kembali kotak obat miliknya dengan benar lalu ia alihkan pandangan nya kearah gadis bermasker disampingnya.
"Lo murid SMA Taruna, 'kan?" tanya cowok itu.
"I-iya," jawab Geisha pelan sangat pelan hampir seperti berbisik.
Cowok itu menautkan kedua alisnya karena kurang jelas mendengar ucapan gadis disampingnya. "Maaf, lo bisa buka masker lo? Suara lo kurang jelas soalnya," ujar cowok itu hati-hati.
Geisha menggeleng samar.
"Makasih atas bantuannya kamu orang baik," ucap Geisha kali ini sedikit lebih keras.
"Eh lo mau kemana?" Tangan cowok itu menahan pergelangan tangan Geisha.
"Maaf, bisa tolong lepasin, aku mau sekolah," ujar Geisha berusaha sedikit menghindar dari cowok itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)