Suasana sepi menjadi hal pertama yang dilihat oleh Darius saat kakinya menapak pada tempat peristirahatan terakhir mendiang istrinya. Matahari bersinar terik siang ini membuat hawa panas itu terasa membakar kulitnya. Namun hal itu tak sama sekali membuat niatnya terurungkan untuk menjenguk istrinya, yang telah lama pergi meninggalkannya.
Berdiri diam di depan gundukan tanah di hadapannya. Ia membuka kacamata hitamnya saat merasakan cairan kristal itu sudah menumpuk di pelupuk matanya. Matanya berkedip beberapa kali hingga cairan itu terjun bebas dari tempat asalnya yang langsung diusap kasar oleh sang empu. Menengadahkan kepalanya keatas sejenak guna menghalau cairan bening itu agar tidak lagi turun.
Di sini, ia datang bukan untuk menangis tapi meminta maaf pada mendiang istrinya. Semalaman ia merenung di dalam kamarnya, memikirkan ucapan Karina tempo lalu. Hingga ia pun pada akhirnya sadar bahwa selama ini ia salah, salah karena telah membenci darah dagingnya sendiri tanpa alasan yang jelas. Memperlakukan darah dagingnya sendiri selayaknya hewan.
Ia juga sadar bahwa kematian sang istri bukan karena Reygan tapi karena takdir. Sudah sangat jelas, jika Reygan bukanlah penyebab atas kematian Kania, istri pertamanya. Reygan tidak bersalah dan tidak pernah salah selama ini.
Darius sendiri sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk segera memperbaiki hubungannya dengan sang putra secepatnya. Bila perlu memohon maaf atas semua kesalahannya pada putranya itu.
"Kania, maaf. Maafkan, aku," ucapnya dengan suara pelan karena menahan sesak.
Tangan besarnya mengelus batu nisan bertuliskan nama istrinya di sana dengan terus menyuarakan kata maaf berkali-kali. "Maaf, aku, gagal, sayang. Aku bukan suami yang baik juga bukan ayah yang baik, maaf." Air matanya kembali menetes yang langsung di usap kasar olehnya.
"Tolong maafkan kesalahan ku, dan tolong jangan benci aku, ya? Aku janji akan segera memperbaiki semuanya, termasuk memperbaiki hubungan ku dengan anak kita, Reygan."
Ia sudah benar-benar memikirkan hal ini semalaman dan tekadnya sudah bulat untuk memperbaiki semuanya termasuk memperbaiki hubungannya dengan Karina yang sebelumnya tidak pernah harmonis selama mereka menikah, terlebih dengan sang putra.
"Setelah ini, datang ke mimpi aku ya?"
"Aku merindukan mu, Kania."
Kepalanya menunduk dalam setelah kalimat itu ia ucapkan. Dengan menahan sesak yang teramat dalam ia kembali mengangkat pandangannya dan kembali bersuara lirih. "Aku mencintaimu, Kania. Selalu dan selamanya."
***
Geisha menghela napasnya kasar saat lagi dan lagi niatnya menyuapi Reygan di tolak mentah-mentah oleh cowok itu dengan alasan belum lapar.
Sikap Reygan yang kekanak-kanakan ketika sedang sakit membuat Geisha harus banyak-banyak bersabar menghadapi cowok itu. Terlalu keras kepala dan susah untuk di atur terlihat sekali turun dari Papa cowok itu. Semoga saja sifat keras kepalanya Reygan tidaklah menurun ke anaknya kelak. Kalau hal itu sampai terjadi, Geisha tak bisa membayangkan seberapa reportnya dia menghadapi dua orang yang memiliki sifat keras kepala seperti suaminya ini.
"Rey, makan ya? Sedikit aja habis itu minum obat," bujuk Geisha dengan lembut.
Tangannya sudah siap menyendok 'kan nasi dan lauk yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit bersiap menyuapi cowok itu. Namun, lagi-lagi ia kembali mendapat penolakan dari cowok itu.
Untung sayang, kalau tidak sudah ia buang ke sungai Amazon
"Gei, aku belum lapar. Nanti aja, mending kamu yang makan deh." Reygan sedikit menjauhkan sodoran sendok itu dari hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)