Chapter 29: Semakin Berulah

7.1K 226 43
                                        


Geisha keluar dari dalam kamar mandi setelah beberapa menit membersihkan diri. Berjalan menuju lemari guna mengambil pakaiannya. Dibukanya lemari tersebut dan diambilnya satu buah koper berisi baju-baju miliknya yang memang sengaja tidak dia simpan di lemari atas perintah Reygan, yang katanya takut terkena kuman atau penyakit jika barang-barang miliknya ditaruh ditempat yang sama dengan cowok itu. Padahal jelas-jelas Geisha bukanlah sampah atau bahkan kuman yang bisa menyebarkan penyakit.

Geisha mulai mencari baju yang sekiranya cocok untuk dia gunakan dirumah, ya, dihari libur ini Geisha memang tidak memiliki niatan untuk pergi kemana-mana seperti orang-orang diluaran sana, dia lebih memilih tetap berada di rumah seraya bermanja-manja dengan kasurnya.

Diambang pintu kamar, Reygan menelan ludahnya susah payah begitu melihat pemandangan yang cukup membuat matanya tak berkedip sama sekali. Paha mulus serta leher jenjang milik Geisha terekspos dengan jelas. Reygan menggelengkan kepalanya guna mengusir pikiran jorok dikepalanya.

'Sial, bisa-bisanya gue mikir jorok,' gerutunya dalam hati.

Reygan menutup kembali pintu tersebut dengan gerakan sepelan mungkin. Berdiri pada posisinya sembari bersedekap dada santai.

Beberapa menit menunggu, cowok itu mulai mengetuk pintu bercat coklat itu.

Tak lama dari itu, pintu dibuka oleh orang didalam sana yang tak lain adalah Geisha. Gadis itu sudah selesai mengganti pakaian santainya, hanya saja rambut yang masih dibungkus oleh handuk kecil itu belum juga dilepas dan dikeringkan.

"Kenapa?" tanya Geisha berdiri sejajar dengan Reygan.

"Mama dateng, cepet turun!" katanya dingin. Jangan lupakan wajah datar andalannya.

Geisha mengangguk menanggapi yang setelahnya cewek itu menutup pintu tersebut dengan keras sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.

Brak!

"Anj!" Reygan mengumpat tertahan karena terkejut.

"Cewek sialan!" lanjutnya menggerutu pelan. Menyumpah serapahi Geisha dalam hati.

***

"Kok kamu sendirian, Geisha mana, Rey?" tanya Karina begitu mendapati sang putra berjalan sendirian.

Reygan menarik salah satu kursi meja makan untuk dirinya duduk. Anak laki-laki itu tak mengindahkan pertanyaan dari ibunya.

"Rey?" Suara Karina sedikit meninggi beberapa oktaf.

Dengan malas, Reygan menatap ibunya yang kini menatapnya tajam. "Bentar lagi turun," balas cowok itu sekenanya.

"Kenapa nggak kamu tunggu aja, biar sekalian turun bareng?" tanya wanita setengah baya itu.

"Males!" jawab Reygan acuh.

Karina mengembuskan napasnya kasar. Sikap cuek dan dingin Reygan benar-benar menurun dari ayahnya. Dulu saat awal mereka menikah, sikap Darius sangat acuh bahkan terkesan tak peduli dengannya bahkan sampai sekarang. Tapi untuk sekarang tidak separah dulu, perlahan-lahan pria itu bisa menerima kehadirannya.

Ia berharap, Geisha bisa lebih bersabar menghadapi sikap Reygan dan semoga saja Geisha bisa merubah anak sulungnya itu agar lebih hangat tidak seperti sekarang yang terkesan dingin tak tersentuh.

Langkah kaki seseorang dari tangga sukses membuat keduanya menoleh kearah sumber suara.

Geisha berjalan menghampiri meja makan dengan wajah yang sudah terlihat lebih fresh dari sebelumnya. Rambut yang baru saja ia keringkan menggunakan pengering rambut sengaja ia gerai bebas.

REYGANSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang