Kaivan membuang napasnya gusar seraya mengacak rambutnya frustasi. Sudah hampir satu minggu ia kehilangan kabar dari Geisha. Sejak malam dimana mereka saling berbalas pesan Geisha seolah menghilang tanpa jejak. Kaivan benar-benar frustasi dengan kabar hilangnya Geisha. Cowok itu terlihat sangat kacau beberapa hari belakangan ini.
Tubuh yang kurus bak tulang itu semakin terlihat jelas, kedua mata teduhnya kini terlihat sayu dan kosong juga dengan bawah mata yang mulai menghitam. Terlihat begitu menyedihkan. Cowok itu sudah seperti seseorang yang kehilangan jiwanya sekarang. Semangat hidupnya seolah hilang begitu saja.
Kaivan kacau, benar-benar kacau saat ini.
"Arrgh lo dimana, Gei?" teriaknya sembari menjambak rambutnya frustasi.
Brak!
Ia membanting ponsel miliknya begitu saja dilantai kamarnya. Kini posisi cowok itu tengah duduk dibawah lantai dengan pandangan kosong kedepan.
Selama hampir satu minggu ini yang dia lakukan hanya diam melamun dengan tatapan kosong didalam kamarnya. Ia tak sama sekali mengizinkan satu orang pun masuk kedalam kamarnya. Tidak makan dan tidak minum selama hampir tiga hari bahkan cowok itu melupakan jadwal pengobatannya dan juga jadwal meminum obatnya. Ia melupakan kondisi kesehatannya yang mulai menurun.
"Akkhh!" Dia berintih seraya mencengkram dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri yang luar biasa.
Cowok itu terduduk lemas dibawah lantai yang dingin itu dengan mulut yang tak berhenti merintih kesakitan. Cengkraman tangannya pun semakin kuat lantaran rasa sakit yang dialaminya kali ini benar-benar terasa sakit dari sebelumnya.
Daksanya meringkuk seperti anak kecil dibawah sana. Mulutnya bergumam lirih menyebut nama sang Mama beberapa kali. Napasnya semakin tercekat dengan dada kembang kempis tak beraturan. Bahkan rasanya untuk bernapas pun terasa begitu sulit. Matanya memerah dengan cairan bening yang mengenang dipeluk matanya. Wajahnya pucat dengan bibir yang mulai berwarna kebiruan. Kaivan sudah terlihat seperti mayat hidup.
"M-mm-mma s-ssakitt—" Ia berucap dengan susah payah.
Lidahnya pun terasa begitu keluh, kepalanya ikut berdenyut nyeri juga dengan napas yang tersengal-sengal tak beraturan.
Pandangannya mulai mengabur tak jelas lalu beberapa detik setelahnya kedua mata itu tertutup dengan sempurna bersamaan dengan itu, cengkraman di dadanya mulai mengendur dan terlepas begitu saja.
Kaivan sudah tidak sadarkan diri dengan posisi meringkuk di atas lantai kamarnya seorang diri.
Brak!
Pintu kamar Kaivan didobrak paksa oleh Reygan dari luar. Cowok itu datang bersama Karina dibelakangnya dengan napas naik-turun.
"YA ALLAH KAIVAN!" Karina berteriak histeris begitu melihat tubuh putranya sudah tergeletak dibawah dengan keadaan yang begitu mengenaskan.
Wanita cantik itu lantas menghampiri sang putra dan menangis sejadi-jadinya disana. Tangannya beberapa kali menepuk-nepuk pipi sang putra berharap putra bungsunya itu akan membuka matanya.
"Nak, bangun sayang ini mama hiks.."
"Sayang, bangun mama mohon, nak.."
"Bangun nak, kamu harus bertahan..."
Ajaib kedua mata Kaivan terlihat terbuka sayup-sayup. Cowok itu memandangi wajah Mamanya dari bawah sembari tersenyum tipis lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. "M-mma Kai i-iizin t-ttidur s-ssebentar y-ya?!" Tangannya dengan susah payah berusaha menghapus jejak air mata mamanya.
Anak laki-laki itu menampilkan senyum tipisnya dihadapan Karina yang setelahnya kedua mata sayu itu kembali tertutup dengan perlahan.
Air mata Karina kembali mengucur dengan deras. Kepalanya menggeleng dengan kukuh. Ia memeluk tubuh lemas putranya dengan terus mengguncangnya kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Fiksi Remaja[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)