Sejak tadi Karina tak berhenti untuk membujuk sang putra agar mau meminum obatnya. Putranya yang galak dan keras kepala itu memang sangat sulit jika disuruh menelan obat. Entah sudah berapa cara yang Karina lakukan agar putranya itu mau meminum obatnya.
Kondisi Reygan memang sudah jauh lebih baik setelah melewati masa kritisnya dua hari yang lalu. Cowok itu sudah terlihat lebih sehat dari sebelumnya, luka di wajahnya pun sudah mulai mengering hanya tinggal bekasnya saja yang tersisa. Kemungkinan besok atau lusa Reygan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tapi dengan syarat cowok itu harus benar-benar istirahat dan menjaga pola makannya dengan benar.
"Rey, ayo dong minum obatnya. Katanya mau cepet keluar dari rumah sakit." Karina kembali bersuara untuk membujuk sang putra.
Reygan menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak mau, ma, pahit Rey nggak suka."
Karina menghela pelan. "Minum ya, biar kamu cepat sembuh, katanya mau ketemu Geisha."
Karina berharap Reygan akan luluh jika ia pancing dengan nama gadis itu. Karena semenjak Reygan sadar cowok itu terus saja menanyakan Geisha tiada henti.
Agaknya anak itu sudah mulai bergantung dengan gadis itu terbukti Reygan langsung terlihat bersemangat begitu Karina menyebut nama istrinya.
"Ma, kapan Rey boleh pulang?" tanya anak itu begitu antusias.
"Besok, kalo nggak lusa kamu bisa pulang. Makanya ayo diminum obatnya geh, biar kamu cepet sembuh dan cepet pulang terus ketemu istri kamu." Karina tersenyum hangat.
Reygan lantas mengangguk semangat.
"Tapi janji ya bakal ajak Rey ketemu Geisha kalo Rey sembuh?"
Karina mengangguk dengan ragu. "Iya Mama janji."
"Yaudah mana sini obatnya." Tangan Reygan menodong didepan Karina.
Dengan senang hati Karina menyerahkan obat yang berada ditangannya pada sang anak. "Pelan-pelan aja."
Reygan mengangguk. Ia lantas mulai memasukkan obat tersebut kedalam mulutnya yang langsung ia telan dan disusul dengan air putih untuk sedikit membantu menelan obat itu hingga benar-benar berhasil tertelan.
"Sekarang kamu tidur ya?" Reygan mengangguk pelan.
Karina lantas membantu membaringkan tubuh Reygan lalu menyelimuti anak itu hingga mencapai perut.
Wanita itu duduk dikursi seraya mengelus sayang rambut anaknya.
Reygan sendiri merasa begitu nyaman saat rambutnya dielus oleh Mamanya suatu hal kecil yang selama ini belum pernah ia rasakan. Ternyata rasanya tenang dan nyaman, pantas saja Kaivan sangat suka dielus rambutnya oleh sang Mama. Dulu, Reygan hanya bisa melihat Kaivan yang diperlakukan demikian oleh Mamanya dan kini akhirnya ia juga bisa merasakan demikian.
"Ma, makasih banyak udah mau merawat Rey selama ini," ucap Reygan tiba-tiba.
Usapan dikepala Reygan terhenti, Karina menatap wajah sendu putranya lantas menggenggam tangan putranya. "Ini sudah menjadi tugas mama, Nak, untuk merawat anaknya."
"Maaf ma, Rey udah buat mama kecewa." Reygan menatap mamanya merasa bersalah.
"Mama memang sempat kecewa sama kamu, tapi mama sendiri nggak bisa kalo harus terus-terusan diemin kamu kan? Kamu sendiri aja butuh bantuan mama."
Reygan jadi semakin merasa bersalah karena sudah membuat mamanya kecewa bahkan sudah menghilangkan kepercayaan wanita itu. Dia menyesal karena sudah membuat orang-orang terdekatnya kecewa karena ulahnya yang brengsek ini.
Lantas apakah dia pantas mendapat maaf dan ampun dari mereka? Terlebih dari Geisha sendiri? Reygan takut jika mereka membenci dirinya dan tidak mau memberi kesempatan untuk nya memperbaiki semuanya mengingat kesalahan nya benar-benar sangatlah fatal karena hampir membuat nyawa seseorang melayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Novela Juvenil[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)