Alina yang berusaha kabur dari kejaran anak buah Rissa pun berakhir tertangkap oleh dua orang suruhan Mamanya dan kini tubuhnya yang terus berusaha memberontak dibawa kesebuah bangunan yang nampak kumuh yang tempatnya jauh dari permukiman warga.
"Lepasin gue sialan!"
"Lepas anjing!"
Gadis itu masih berusaha memberontak berharap cekalan pada pergelangan tangannya terlepas dari jeratan dua pria tersebut. Namun usahanya sama sekali tak membuahkan hasil, justru semakin ia berontak, tenaganya akan semakin terkuras lantaran tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan dua pria tersebut yang sama-sama memiliki postur tubuh tegap dan berotot.
"DIEM!" bentak salah satu pria tersebut keras.
Alina langsung kicep dengan mata yang terpejam kuat karena terkejut.
"Duduk!" perintah pria tadi kemudian menghempas tubuh Alina ke sofa yang sudah terlihat usang di ruangan tersebut.
Tap!
Tap!
Suara sepatu berhak tinggi itu terdengar dari arah pintu yang sukses membuat atensi Alina maupun pria itu teralihkan.
Rissa berjalan dengan angkuh menghampiri sang putri dengan tangan yang ia silangkan didepan dada. Menatap Alina dengan tatapan sinis.
Plak!
Tamparan keras itu mendarat sempurna pada pipi Alina, pelakunya adalah Rissa, ibu kandungnya sendiri.
"Anak tidak tau diri!"
Plak!
Alina memejamkan matanya menikmati rasa nyeri sekaligus panas pada kedua pipinya yang ditampar keras oleh sang Mama.
Kedua mata Alina kembali terbuka dengan sempurna, gadis itu menatap wajah penuh amarah Mamanya dengan tatapan nanar. Mamanya yang dulu menyayanginya sudah tidak ada lagi, Mamanya yang selalu bersikap lembut padanya sudah hilang. Kini wanita yang dia sebut sebagai Mama adalah sumber dari rasa sakit dan juga luka yang tertoreh dihatinya.
Jujur, Alina sangat kecewa dengan Mamanya karena sikap dan perilaku wanita itu yang benar-benar sudah sangat keterlaluan terlebih dengannya yang merupakan putri kandungnya sendiri.
Cukup lama Alina menatap wajah Mamanya dengan tatapan sendu. "Ma, ayo pulang, Alina kangen Mama yang dulu. Mama yang selalu sayang sama Alina, Mama yang selalu ada untuk Alina. Alina kangen, Ma." Air mata yang perlahan luruh dengan tiba-tiba.
Memori-memori indah bersama Mamanya seakan berputar dikepalanya bagai kaset rusak. Alina benar-benar merindukan Mamanya yang dulu.
Rissa berdecih pelan mendengar ungkapan sang putri yang menurutnya hanya sebuah omong kosong yang sama sekali tak memiliki arti baginya. "MAMA YANG DULU SUDAH TIDAK ADA DAN TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI SEJAK PRIA SIALAN ITU BERANI MENGUSIR MAMA DAN MENCAMPAKAN MAMA, ALINA! APA KAMU LUPA HAH?"
Alina menggeleng dengan air mata yang terus mengalir dengan deras.
"Kamu tau Alina Mama tidak akan melupakan itu semua begitu saja, mama akan membalas perbuatan laki-laki brengsek itu secepatnya. Mama akan buat dia merasakan kehilangan dengan kepergian putri kesayangannya hahaha mama akan segera membunuh anak sialan itu."
"DAN KAMU! JANGAN BERANI-BERANINYA HANCURKAN RENCANA MAMA, ALINA! MAMA SUDAH LAMA MENUNGGU WAKTU DIMANA MAMA BISA MEMBALAS SEMUA RASA SAKIT YANG SELAMA INI KITA RASAKAN PADA MEREKA. MAMA SANGAT TIDAK TERIMA DENGAN PERLAKUAN MEREKA. MAMA TIDAK RELA MEREKA HIDUP BAHAGIA DIATAS PENDERITAAN KITA!!"
"Enggak Ma, Alina nggak akan biarin mama menyakiti Geisha. Alina akan tetap memberi tahu rencana busuk mama pada Om Arka secepatnya." Alina berusaha bangkit sembari mengusap matanya dengan kasar berniat ingin segera pergi dari sini untuk segera membongkar niat busuk mamanya pada Arka.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)