Chapter 40: Hampir

9K 285 98
                                        

Suasana malam kali ini begitu sunyi tanpa adanya suara kendaraan bermotor maupun mobil yang melintas di jalanan yang tengah dilalui oleh dua remaja tanggung berbeda kelami itu.

Sang lelaki menuntun kuda besinya dan sang wanita mengikuti langkah sang lelaki dengan sedikit menyeret kaki kirinya yang masih terasa ngilu jika digunakan untuk berjalan terlebih dengan jarak yang lumayan jauh.

"Rey?" panggil Geisha pelan.

Reygan berhenti dan menolehkan kepalanya kebelakang. "Apaan?" sahut cowok itu dingin.

"Aku capek, kaki ku juga sakit," cicit gadis itu dengan wajah yang sudah terlihat begitu lelah. Keringat sebesar jagung itu terus bercucuran di pelipisnya.

Reygan menghela napasnya berat. Melihat wajah Geisha yang sedikit pucat itu membuat dirinya menaruh sedikit rasa iba pada gadis itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari tempat yang cocok untuk beristirahat sejenak. Entah kebetulan atau apa tepat dipinggir jalan tersebut terdapat sebuah halte yang sepertinya sudah lama tidak digunakan namun masih menyisakan kursi yang masih bisa digunakan untuk sekedar singgah beristirahat. Dia lantas meminggirkan motor besarnya disisi jalan yang cukup sepi itu.

"Duduk! Istirahat dulu," titah cowok itu menunjuk sebuah kursi halte yang berada disana.

Geisha menurut mengikuti langkah Reygan untuk duduk di kursi halte tersebut.

Suasana disana terasa sangatlah sepi, jam yang sudah hampir menunjukkan tengah malam mungkin yang menjadi salah satu faktor jalanan disana sepi.

"Akhh shhh." Suara ringisan pelan itu berhasil membuat atensi Reygan teralihkan.

Kepalanya memutar kesamping, melihat Geisha yang sedang memegangi kakinya. Gadis itu terlihat sedang menahan sesuatu bahkan mungkin menahan tangis.

Reygan berdecih dalam hati lantaran merasa kasihan pada gadis itu. Karena mau bagaimanapun luka yang gadis itu rasakan sekarang adalah ulahnya kemarin, yang ia kira tidak akan separah itu tapi ternyata dirinya salah, bahkan luka di kaki gadis itu masih ada dan sepertinya masih terasa sakit padahal kemarin sudah Karina obati. Ah, sepertinya dia terlalu kuat mendorong gadis itu kemarin sehingga luka yang didapat cukup parah. Maybe.

Ia merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel miliknya berniat ingin meminta bantuan pada salah satu pekerja papanya namun sial ponselnya ternyata mati.

Laki-laki itu mendengus kasar. Kepalanya kembali ia tolehkan kesamping seraya menodongkan tangannya. "Hp lo," katanya yang sukses membuat Geisha bingung namun sesaat dia paham jika cowok disampingnya ini ingin meminjam ponselnya.

"Cepet!" desis cowok itu tak sabar.

"Buat apa?" Alih-alih menyerahkan ponselnya, Geisha justru lebih dulu mengajukan pertanyaan.

"Telpon orang, hp gue mati," jawab cowok itu seraya menunjukkan ponselnya yang memang benar-benar mati.

"Jangan." Geisha menjauhkan ponsel miliknya.

"Ck, gue pinjem bentar pelit banget sih lo," gerutu Reygan.

Kepala Geisha menggeleng cepat. "Enggak bisa."

"Bentar doang woi lagian emang lo mau disini terus sampe besok pagi hah?" Reygan yang sudah mulai tersulut emosi sedikit menaikan nada bicaranya.

Geisha tetap menggeleng dengan kukuh seraya berusaha menyembunyikan ponselnya takut-takut Reygan mengambilnya secara tiba-tiba.

Reygan yang melihat itu bertambah emosi. Gadis itu memang senang sekali membuatnya emosi. "Mana? Nggak usah buat emosi deh lo. Mau gue kasarin lagi hah?" Nada bicara Reygan sedikit membentak.

REYGANSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang