Chapter 72: Mereka Bukan Kembar

4.5K 136 3
                                        

Di dalam kamarnya, Reygan nampak terdiam dengan pandangan lurus ke depan menatap air hujan yang turun begitu deras siang ini. Kilatan petir kian terlihat juga dengan suara Guntur yang ikut bersahutan. Menciptakan suasana mencekam di dalam kamar berminim cahaya itu.

Duduk diam dengan pikiran berkelana kemana-mana, tangannya menggenggam sebuah amplop putih yang sempat diberikan oleh Geisha selepas dari pemakaman ayahnya.

Sang ayah meninggal akibat kecelakaan beruntun yang di alaminya saat ingin menemuinya di rumah sakit, itu kata sang Mama yang memberitahu.

Reygan mulai membuka amplop putih di tangannya, lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Ternyata sebuah surat yang dan juga sebuah foto berukuran sedang di dalamnya.

Ia mengamati gambar dalam foto tersebut cukup lama. Di dalam gambar tersebut ada sang papa dan juga Mama Kania, ibu kandungnya yang tersenyum begitu lebar. Sang papa terlihat begitu bahagia di sana bersama ibu kandungnya yang tengah mengandung dirinya, sebab perutnya terlihat besar dan membuncit.

Reygan beralih pada surat yang di tulis tangan oleh papanya. Membaca kata demi kata dengan seksama hingga tanpa sadar cairan bening itu meluruh bebas ke bawah mengenai kertas putih tersebut.

Reygan, anak papa...

Maaf nak, maaf atas semua yang udah papa lakukan sama kamu. Papa sadar selama ini papa salah memperlakukan kamu dengan sangat buruk, padahal kamu darah daging papa sendiri. Papa benar-benar menyesal.

Selama ini papa hanya belum bisa ikhlas atas kepergian mama mu, papa belum bisa melupakan mama mu meski kepergiannya sudah sangat lama tepatnya tujuh belas tahun yang lalu. Pada saat kamu lahir, papa sangat senang sekali, tapi begitu mendengar mama mu pergi meninggalkan papa untuk selama-lamanya, rasa benci itu tiba-tiba saja hadir yang membuat papa sangat membenci kehadiranmu. Tapi ketahuilah jauh dari lubuk hati papa yang paling dalam papa sangat menyayangi mu dan maaf juga dulu papa sering memperlakukan kamu dan Kaivan dengan tidak adil. Padahal kalian sama-sama anak kandung papa, maafkan papa, papa benar-benar bodoh.

Papa harap kamu bisa memaafkan kesalahan papa mu ini. Untuk sekarang papa belum bisa jenguk atau sekedar meminta maaf secara langsung. Papa masih kalah dengan ego papa sendiri, rasanya masih sangat sulit. Maafkan papa... Jika kamu benci papa, papa akan terima karena papa sadar jika segala perlakuan papa selama ini sudah benar-benar kelewatan. Papa gagal, papa merasa gagal menjadi seorang ayah, sekali lagi maafkan papa Reygan..

Papa harap hubungan kita bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Papa ingin menebus semua kesalahan papa selama ini. Semua yang belum pernah papa kasih ke kamu segera akan papa kasih, termasuk pelukan papa yang selama ini belum pernah kamu rasakan. Jika masih ada kesempatan, papa ingin sekali memeluk tubuh putra papa satu ini. Satu pelukan yang sejak kecil kamu idam-idamkan bukan? Dulu papa selalu menolak kamu memeluk papa tapi sekarang papa yang akan meminta di peluk kamu lebih dulu.

Cepat sembuh ya, nak... kalau papa sudah benar-benar siap papa akan menemui kamu secara langsung untuk memperbaiki semuanya. Papa janji, tunggu papa ya... jika semesta mengijinkan.

Reygan menutup kembali kertas tersebut, rasa sesak itu kian hadir yang membuat air matanya tak berhenti untuk turun.

Benci? Tidak ia sama sekali tidak pernah membenci papanya, terlepas dengan semua perlakuan buruk papanya pada nya sejak dirinya masih kecil. Seburuk-buruknya sang papa, beliau tetaplah ayah kandungnya yang telah menghadirkan dirinya di dunia yang kejam ini. Mungkin ada rasa kecewa pada beliau, tapi itu hanya sebatas rasa kecewa biasa bukan berarti ia membenci papanya justru ia sangat menyayangi papanya itu.

Bagi Reygan, papa tetaplah pahlawan untuk nya. Sosok pria tegas yang mengajarkannya apa itu arti dari sebuah kehidupan, meski dengan cara yang berbeda dari anak-anak lainnya.

REYGANSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang