Chapter 66: Hukuman

4.4K 160 27
                                        

"Baik-baik ya, nanti kalau aku udah selesai aku bakal jemput kamu," ucap Reygan sembari mengelus kepala Geisha sebagai salam perpisahan.

"Kamu hati-hati, jangan ngebut-ngebut bawa motornya," peringat Geisha dengan wajah sok galak.

"Iya, siap ibu negara." Reygan menunjukkan sikap hormat di depan Geisha yang mengundang kekehan kecil oleh Geisha.

"Udah sana kamu berangkat, nanti keburu ditunggu papa lho," ujar Geisha.

"Kok ngusir?" Alis Reygan terangkat satu.

"Aku enggak ngusir ya," balas Geisha membela diri.

"Iya, iya deh, yaudah sana kamu masuk duluan aku liatin," titah Reygan sembari menunjuk arah pintu rumah sakit.

"Enggak mau, kamu yang duluan aja, sana."

Reygan membuang napasnya kasar. Kalau sudah seperti ini mau tak mau ia yang harus mengalah. "Iya, aku yang duluan deh," ucapnya dengan pasrah.

"Udah sana aku liatin. Awas jangan ngebut-ngebut," peringat Geisha untuk yang kedua kalinya.

"Iya, siap sayang." Reygan mendekat lalu mencium cukup lama kening Geisha.

"Jaga diri baik-baik, aku pergi dulu," pamitnya yang dibalas anggukan disertai senyum paling indah yang Geisha miliki.

Reygan memakai kembali helm nya lalu ia pun naik keatas kuda besinya itu untuk segera pergi ke rumah kedua orang tuanya, sesuai janjinya pada sang papa kemarin malam.

"Reygan hati-hati!" ucap Geisha sedikit berteriak.

Reygan membuka sedikit kaca helmnya dan tersenyum simpul.

Setelah mesin motornya berbunyi, ia pun segera menarik pedal gas tersebut dan melesat meninggalkan pelataran rumah sakit yang cukup luas itu.

Pandangan Geisha mengarah jauh pada motor Reygan yang sudah tak begitu nampak lagi oleh matanya. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya saat melihat suaminya itu pergi. Entah kenapa perasannya juga tidak enak memikirkan Reygan.

Lelah dengan apa yang ada dipikirannya, Geisha pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam guna menemui Alina yang sudah menunggunya sejak tadi sekaligus menuntaskan rasa penasarannya pada sesuatu.

***

Reygan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang sesuai pesan Geisha tadi, membelah jalanan kota sore menjelang malam hari ini yang lumayan ramai dipadati kendaraan beroda dua ataupun roda empat.

Letak rumah kedua orangtuanya memang tak begitu jauh dari rumah sakit, sehingga hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit untuk Reygan sampai ke sana.

Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk dirinya masuk ke dalam. Reygan pun memberi sapaan pada satpam di rumahnya itu seperti yang sering ia lakukan dulu.

Membuka helm full face nya, Reygan lagi-lagi menghembuskan napasnya dengan kasar mencoba menghilangkan rasa takut serta gugupnya untuk menemui sang papa.

Dirasa sudah siap, ia pun berjalan menuju pintu utama yang menjulang tinggi itu. Mengetuknya beberapa kali namun tak sama sekali ada sahutan dari dalam sana. Ia mendesah kesal dan memutuskan untuk masuk kedalam begitu saja. Toh ini rumah kedua orangtuanya jadi sah-sah saja ia langsung masuk kedalam.

Baru saja kakinya menapak pada bagian ruang tamu, Reygan bisa mendengar suara keributan yang terjadi di ruang keluarga. Suara bentakan dan juga barang pecah memenuhi isi ruangan tersebut.

REYGANSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang