K
aivan tampak tersenyum-senyum sendiri saat melintasi koridor kelas yang berhubungan langsung dengan kelas anak IPA. Tangannya tak berhenti memegangi bibirnya yang sempat mengambil kecupan singkat dibibir Geisha.
Entahlah mengapa dia bisa melakukan hal itu dengan tidak punya malunya. Padahal status mereka belum sepenuhnya jelas terlebih ia baru saja mengenal Geisha beberapa hari yang lalu. Tapi dengan begitu gampangnya Kaivan mengambil first kiss Geisha tanpa ada persetujuan dari gadis itu sendiri.
Kaivan sempat merutuki kebodohannya sendiri. Ia benar-benar bodoh tak mempunyai malu karena telah mengambil first kiss Geisha tanpa ada ikatan status apapun.
"Bodoh banget sih lo, Kai," ucapnya pada dirinya sendiri.
Dari arah berlawanan Reygan datang dengan kerutan kecil di dahinya. Cowok itu mengantongi kedua tangannya kedalam saku seragamnya. Matanya memandang Kaivan yang kini sudah semakin dekat dengannya.
Melihat Kaivan berbicara dan mencibir seorang diri membuat Reygan merinding. Pasalnya tidak ada satu pun orang yang melintas disana selain dirinya.
Kaivan yang baru menyadari kehadiran saudaranya pun lantas menghentikan langkahnya. Ia menatap sang kembaran lebih tepatnya menelisik seluruh wajah kembarannya. Luka lebam dan memar itu terlihat dibeberapa tempat.
Wajahnya nampak sendu, secuil rasa bersalah itu timbul dari dalam hatinya. Kaivan tak pernah menyangka jika selama ini sang kakak sering mendapat perlakuan kasar dari Papanya. Selama ia tinggal di luar negeri tak ada seorang pun yang memberi tahu kondisi keluarganya di sini. Bahkan untuk sekedar bertukar kabar dengan kembarannya, Darius melarang keras. Pria itu terlalu ketat menjaganya disana sampai apa-apa pun Kaivan harus didampingi oleh dua orang bodyguard yang setiap 24/7 jam menjaganya tanpa lengah sedikitpun.
"Lo apa-apaan sih?" Reygan menepis kasar tangan Kaivan yang baru saja menyentuh lukanya.
"Gue bantu obatin luka lo." Tangan Kaivan menarik tangan Reygan begitu saja.
Bukan Reygan jika tidak menolak. Cowok itu melepas paksa tangan Kaivan dari tangannya. Ia menatap Kaivan datar. "Nggak perlu, gue nggak butuh," ungkap Reygan dingin.
Langkah Kaivan sontak terhenti, cowok itu terdiam sesaat sebelum kembali membalas ucapan Reygan. "Kenapa sih lo selalu aja nolak niat baik gue? Kadang gue mikir kita ini benar-benar saudara kembar nggak sih? Dari kecil hubungan kita terlalu jauh, Rey, jauh banget bahkan untuk saling ngobrol berdua kayaknya susah banget. Lo selalu menghindar dari gue. Apa gue ada salah sama lo selama ini?"
Reygan nampak terkekeh kecil sebentar. "Nggak usah sok polos deh lo. Lo itu biang dari semua yang gue alami sekarang. Dan sekarang lo pake nanya salah lo apa?" Alis Reygan terangkat satu. "Karena lo terlahir di dunia ini. Itu salah lo, Kaivan Jordanio."
Reygan menunjuk wajah Kaivan dengan jari telunjuknya. "Harusnya lo sadar, lo itu sumber kehancuran bagi kehidupan gue. Lo penghacur kehidupan gue, Kaivan."
"Lo hancur? Lo terluka? Lalu gue apa Rey? Gue sakit parah dan karena penyakit sialan ini gue harus menanggung rasa sakit itu setiap hari. Bahkan selama gue hidup gue sama sekali nggak pernah bebas kayak lo, punya temen dimana-mana, bisa keluar kemana aja, melakukan hal-hal seru diluaran sana. Sedangkan gue? Gue nggak bisa Rey, gue lemah yang kapan aja bisa mati karena penyakit sialan ini." Kedua mata Kaivan nampak berubah sendu dan sayu.
Reygan tersenyum sinis, mendengar ucapan kembarannya yang seakan-akan menjadi orang paling terluka dan paling tersakiti disini. Padahal jika dipikir dia lah yang paling terluka disini. Reygan sendiri sempat iri dengan Kaivan karena bisa mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya sejak kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
REYGANSHA [END]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM BACA AGAR PART BARU BISA MUNCUL] ** Sepenggal kisah tentang si pembully yang jatuh cinta dengan gadis yang sering ia bully. Dan ini juga tentang Reygan Jordanio yang hidupnya penuh dengan kepalsuan. Wajah yang terlihat tenang namun...
![REYGANSHA [END]](https://img.wattpad.com/cover/356972339-64-k645209.jpg)