Chapter 43: Menyesal (2)

9.5K 293 80
                                        


Reygan mengerjapkan matanya pelan menyesuaikan cahaya yang masuk lewat retina matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar berwarna putih bersih itu. Matanya mengedar lalu ia menghela napasnya kasar begitu menyadari dimana ia sekarang.

Ia berusaha memposisikan tubuhnya untuk duduk meski dengan sedikit kesusahan lantaran tubuh nya benar-benar lemah ia sendiri merasa tak memiliki tenaga sedikitpun. Memutar posisi duduknya lalu perlahan turun dari atas brankar karena teringat suatu hal.

"Gue harus minta maaf sama Geisha. Ya, gue harus ketemu sama dia," gumamnya dengan pelan.

Laki-laki itu berjalan dengan tertatih setelah mencabut asal jarum infus yang tertempel ditangan kanannya dengan kasar sampai membuat punggung tangannya mengeluarkan darah.

Ia sama sekali tak perduli dengan kondisinya sekarang, yang ada dalam benaknya saat ini adalah Geisha. Bagiamana ia bisa bertemu dan meminta maaf pada gadis itu.

Reygan berjalan di lorong rumah sakit seraya berpegangan pada dinding koridor agar bisa menyeimbangkan bobot tubuhnya.

Laki-laki itu menghiraukan rasa sakit diperutnya bahkan luka diwajahnya yang sangat parah. Ia terus berjalan dengan susah payah menuju ruangan Geisha dengan sedikit berlari tergesa-gesa, ia takut jika Geisha benar-benar pergi meninggalkannya. Tak jarang pula ia akan terjatuh di lantai ubin rumah sakit yang dingin itu. Tapi dia tidak pernah berpikir untuk menyerah, ia kembali bangkit meski dengan susah payah.

Orang-orang yang melihatnya pun ada beberapa yang merasa kasian dan ada juga yang terlihat bodo amat.

Salah satu sudut bibirnya tertarik keatas saat sudah berada didepan ruang inap Geisha. Beruntung, Arka dan juga yang lain tidak berada disana.

Tanpa pikir panjang, ia lantas masuk kedalam dengan langkah tertatih. Ia berjalan menuju brankar lalu duduk dikursi samping brankar.

Reygan menggenggam erat tangan Geisha yang tidak terinfus itu lalu berucap lirih. "Maaf, Gei, maaf gue minta maaf."

"Ayo bangun, jangan tinggalin gue, gue mohon, Gei."

"Gue nyesel Gei, ayo bangun maafin gue."

Ia kembali menangis didepan Geisha sembari bergumam maaf tanpa henti. Reygan terus menciumi tangan gadis itu tiada henti. Ia sangat berharap Geisha akan lekas membuka matanya dan memaafkan dirinya.

Dan benar saja tak lama dari itu kedua mata Geisha perlahan mengerjap pelan yang setelahnya terbuka dengan sempurna.

Gadis itu menatap kesamping dimana Reygan tengah menangis seraya terus menggenggam erat tangannya sesekali mengecupnya bertubi-tubi.

"R-rey?" panggil gadis itu dengan suara pelan.

"Geisha lo udah bangun?" Reygan langsung saja memeluk tubuh gadis itu tanpa pikir panjang.

Geisha mematung ditempat, baru kali ini Reygan memeluknya seperti ini. Jadi gini rasanya dipeluk suami sendiri? Rasanya nyaman dan tenang, Geisha menyukainya.

"Gei, maaf, gue emang brengsek udah tinggalin lo sendirian."

"Maaf Gei, gue nyesel."

"Maaf, Gei, sekali lagi gue minta maaf."

Perasaan Geisha menghangat, saat itu juga hatinya perlahan melunak. Gadis itu mengusap punggung Reygan yang bergetar dengan lembut.

"Kamu nggak salah, Rey. Kamu nggak perlu minta maaf."

Reygan mengurai pelukannya menatap wajah pucat Geisha tak percaya. "Gei, lo nggak marah sama gue? Lo nggak mau tampar? pukul gue?"

"Ayo Gei, tampar gue, pukul gue sepuas yang lo mau. Gue ikhlas ayo Gei, lampiaskan semua yang selama ini lo pendem."

REYGANSHA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang